Ashatirulawwaalin.
Al-Qur’an merupakan
satu-satunya media Allah yang diberikan kepada manusia untuk menjawab segala
macam hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan yang dialami manusia itu
sendiri. Memasuki tahap demi tahap lintasan ayat perayat di dalam Al-Qur’an,
ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami maknanya sebagai pola
kecerdasan untuk dekat kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an banyak
sekali terdapat sandi-sandi rahasia, yang semuanya berisi penuh dengan wawasan
dan pengetahuan sekaligus ada pola bertindak yang benar dari setiap ayat “KITABULLAH”
itu. Segala macam pernak-perniknya sangat rinci Allah jelaskan sebagai bahan
untuk berperilaku yang pantas sebagai manusia terhadap kehendak Allah.
Salah satu sandi yang menarik
untuk dibahas dan dipelajari dari Al-Qur’an sekarang adalah tentang “ASATHIIRUL
AWWALIN” atau “DONGENGAN PURBAKALA”. Karena banyak manusia yang
sedikit asing dan saru tentang pemahaman “Dongeng Orang Terdahulu” ini, bahkan
ayat-ayat yang menjelaskan tentang makna “Asathirul Awwalin” begitu sulit
dipahami dan jarang diteliti, sebab dianggap ayat-ayatnya atau “Asathirul
Awwalin” hanyalah informasi yang berlaku kepada orang-orang terdahulu saja.
Mari perhatikan
TAHAP PERTAMA
Awalnya orang-orang dahulu
mati-matian bekerja keras dan berjuang susah payah mengarungi bahtera kehidupan
untuk mempertahankan populasi dirinya sebagai umat manusia. Dalam keadaan
kerasnya perjuangan itu, semua orang dengan berbagai cara melakukan tindakan
untuk mempertahankan diri dan hidupnya serta mempertahankan apa yang
dimilikinya.
Pada saat itu, cara orang-orang
mempertahankan hidup sangat unik dan menarik. Karena cara yang dipakai bukan
dengan kekerasan, bukan dengan perang, juga bukan dengan berbunuh-bunuhan. Tapi
orang-orang pada waktu itu mempertahankan diri dengan “BICARA” nya.
Alias siapa yang paling pandai berbicara, ahli motivasi dan ahli komunakasi.
Maka dialah yang akan menjadi penguasa sekaligus bisa bertahan hidup.
Jadi dari bicaranya,
orang-orang pada waktu itu mampu memberikan kekuatan tersendiri untuk menarik
hati siapa saja dalam rangka untuk mengumpulkan kepercayaan orang lain terhadap
dirinya. Dan dari sinilah muncul adanya perang antar pengaruh. Sehingga yang
paling kuat bicaranya untuk mempengaruhi orang lain maka semakin berkuasalah
dirinya dan semakin terjagalah hidupnya. Bahkan dari sini pula lahirnya ahli
penyair-penyair dunia yang begitu luar biasa hebat dan berpengaruhnya perkataan
seseorang untuk menarik jiwa siapa saja dibawah kendalinya. Dengan kemampuan
berkata-kata inilah asal muasal hidupnya “Sang ASATHIIRUL AWWALIN”.
Yaitu orang-orang yang senantiasa dengan perkataannya itu dalam rangka mengejek
orang lain.
TAHAP KEDUA
Sejak saat itu berkembanglah “Asathiirul Awwalin” yang sejak
dahulu sampai sekarang berkembang menjadi sikap dan tindakan hidup sebagian
banyak manusia. Sehingga menciptakan orang-orang yang begitu hebat perkataannya
dan suka mengolok-olok orang lain yang benar karena dianggap hanya merekalah
yang hebat. Bahkan di zaman rasulullah saja orang-orang “Asathiirul Awwalin”
ini begitu pesat berkembang.
Ketika Rasulullah ada sebagai utusan Allah untuk membawakan
ajaran yang benar kepada mereka semua, yang membawa ketauhidan yang sempurna
dengan Al-Qur’an untuk bertuhankan kepada Allah semata, orang-orang pada waktu
itu membantahnya dan mengolok-olok rasulullah dengan perkataan yang sifatnya
mengejek padahal kebenaran itu nyata, menunjukkan betapa merasa hebatnya
orang-orang “Asathirul Awwalin” itu daripada orang lain.
Di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan di surah An-Nahl(16) ayat
24 – 29 :
24.
dan apabila dikatakan kepada mereka "Apakah yang telah diturunkan
Tuhanmu?" mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang
dahulu",
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada
manusia yang dibawa oleh Rasulullah sebagai media untuk petunjuk hidup. Namun
ketika itu saat Al-Qur’an itu nyata dan benar adanya sebagai kebenaran dari
Allah, orang-orang pada waktu itu menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng saja,
bahkan Rasulullah dianggap sebagai tukang sihir dan sebagainya.
Orang-orang pada waktu itu
melontarkan perkataan yang menyulitkan diri mereka sendiri, menghina, mencaci,
menganggap remeh dan banyak urusan, tapi tidak mau menerima kebenaran. itulah
yang namanya “ASATHIRUUL AWWALIN”.
Bahkan Al-Qur’an saja dianggap sebagai buku dongeng bukan
sebagai petunjuk Allah, maka sudah barang tentulah siapa saja orang yang
mengolok-olok Allah dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan, bertindaknya
mengabaikan Al-Qur’an dan sulit mendengarkan orang lain, maka dia termasuk
dalam golongan orang-orang “Asathirul Awwalin”.
Kemudian selanjutnya di surah 16 : 25 – 29
25.
(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya
pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, Amat buruklah
dosa yang mereka pikul itu.
26.
Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah Mengadakan makar, Maka Allah
menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh
menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang
tidak mereka sadari.
27.
kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di
manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi
mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" berkatalah orang-orang yang
telah diberi ilmu: "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan
atas orang-orang yang kafir",
28.
(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat
zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);
"Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun".
(Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
telah kamu kerjakan".
29.
Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat
buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.
Nah pada ayat 25 di atas Allah
tegas menjelaskan bahwa perkataan orang-orang “Asathirul Awwalin” menyebabkan
mereka menanggung beban dan dosa yang memberatkan diri mereka sendiri, dan
membuat mereka jadi sesat.
Jadi contoh sederhana misalnya ada
orang mengatakan “AYOLAH BERTAUBAT KEPADA ALLAH, PELAJARILAH
AL-QUR’AN”, maka orang yang Asathirul Awwalin mengatakan “NANTI
SAJA, UMURKU MASIH MUDA, NANTI SAJA SETELAH TUA BARU BELAJAR, AL-QUR’AN KAN
UNTUK ORANG TUA SAJA, DAN UNTUK ORANG YANG AHLI BAHASA ARAB SAJA, AKU KAN ORANG
AWAM YANG TIDAK TAHU APA-APA”.
Maka ketahuilah sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan hal itu sungguh akan menerima beban dan memikul
dosa yang berat kelak dihadapan Allah, karena perkataan yang dilontarkannya
bermain-main terhadap peringatan Allah, alias dirinya sudah termasuk dalam
bagian orang-orang “ASATHIRUL AWWALIN”.
Pada ayat selanjutnya semakin berat
ancaman Allah kepada orang-orang ASATHIRUL AWWALIN ini, Allah akan
membinasakannya, dan mencemooh serta menhinakannya, dirinya akan hancur, bahkan
malaikat pun akan mencabut dengan keras nyawanya diambang kematian, dan lebih
mengerikan lagi neraka jahannam sebagai tempat tinggalnya yang abadi.
Naudzu Billahi Min Dzaalik.
Karena itu perhatikan benar
perkataan yang akan diucapkan baik kepada diri maupun kepada orang lain,
terlebih lagi perkataan terhadap ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), jika perkataan
yang keluar adalah dalam rangka mengolok-olok dan bermain-main serta membuat
sulit diri sendiri untuk membahas sesuatu tetapi diri ini tidak mau melakukan
yang benar, maka termasuklah diri ini sebagai makhluk ASATHIRUL AWWALIN itu.
Sebagaimana di zaman nabi MUSA as,
ketika kaumnya disuruh menyembelih sapi betina, kaumnya malah bertanya hal-hal
yang tidak perlu dipertanyakan, karena apa yang diperintahkan Allah kepada Musa
terhadap kaumnya adalah perintah Allah yang harus dilakukan, namun karena
kaumnya melakukan sesuatu, banyak bertanya dan sebagainya dalam rangka membuat
sulit mereka sendiri, sebab untuk diperintahkan menyembelih sapi betina saja
harus ditanya warnanya apa, kulitnya bagaimana dan sebagainya, namun akhirnya
mereka tidak melakukannya, itulah prototipe contoh orang-orang Asathirul
Awwalin.
TAHAP KETIGA
Mengenai hal ini, ada delapan Ciri-ciri “Asathirul Awwalin”
itu, :
v QS. 08 : 31
31.
dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata:
"Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau
Kami menhendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini
tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".
Ciri yang pertama orang-orang
Asathiirul Awwalin adalah merasa seolah-olah mampu berbuat sesuatu, sok tahu
dan sebagainya padahal dirinya tidak tahu apa-apa hingga menciptakan
kesombongan pada dirinya.
Jadi kalau misalnya ada orang yang
mengatakan “Akupun bisa melakukan seperti itu” dan meremehkan orang lain,
namun dibalik perkataannya itu dirinya tidak mampu melakukan apa-apa yang lebih
baik, seolah-olah banyak komentar dan kurang puas terhadap orang lain. Maka
sungguh dirinya sudah termasuk Asathirul Awwalin.
Jadi ASATHIRUL AWWALIN bukanlah
sekedar ayat di dalam Al-Qur’an sebagai sebuah cerita yang dilakukan oleh
orang-orang dahulu saja, tetapi ASATHIRUL AWWALIN ini sudah pecah menjadi perilaku
universal dari nabi Adam sampai hari kiamat yang banyak diantara manusia
melakukan hal ini. Alias ayat tentang Asathirul Awwalin ini berlaku
sepanjang masa terhadap seluruh kehidupan manusia.
v QS. 23 : 83
83.
Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan) ini
dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!".
Ciri yang kedua orang asathirul awwalin ini adalah “lebih
memilih nenek moyangnya untuk diikiti daripada Allah, alias menuhankan nenek moyangnya”.
Maka khususnya di Indonesia banyak sekali hal-hal yang
bertaliat kuat dengan budaya dan peradaban nenek moyang ini, dalam beragamna
pun, Islam di Indonesia sudah tidak murni lagi islamnya sebab sudah bercampur
baur dengan sentuhan adat istiadat nenek moyang.
Misalnya saja adanya kematian harus ada acara “Haul” atau
ulang tahun meninggalnya seseorang, kalau tidak dilakukan seolah-olah berdosa
dan bersalah dihadapan Allah. sehingga mati-matian seorang anak dan keluarga
mengusahan mencari dana untuk mengadakan acara yang dianggap benar tadi. Ketika
ditanya mengapa semua itu dilakukan, orang-orang hanya menjawab bahwa semua itu
adalah yang dilakukan oleh nenek moyang kami yang terdahulu. Sehingga banyak
orang-orang liar yang mengikuti sesuatu dari nenek moyangnya tanpa tahu makna
apa yang ada dari hal-hal yang dilakukannya. Selain itu masih banyak lagi
contoh-contoh untuk menggambarkan bahwa banyak diantara manusia yang menuhankan
adatnya ketimbang cara Allah.
v QS. 27 : 68
68.
Sesungguhnya Kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak Kami
dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala".
Ciri yang ketiga adalah mereka “Tidak tajut ancaman dan
neraka”.
Semua manusia tahu bahwa dirinya pasti mati dan menghadap
Allah, namun banyak diantara manusia yang lalai dan tidak mempersiapkan bekal
kematiannya dengan benar. Maka prototipe seperti ini adalah penentang Allah dan
berani menghadapi ancaman Allah kelak.
Banyak manusia yang gila harta dan dunia, terlambat
memperbaiki diri, menolak kebenaran, dan terjebak dengan permainan dunia ini,
sehingga melupakan diri kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan
segala hal yang diperbuat. Dan tidak jarang ketika disuruh taubat banyak yang
belum siap dan masih menganggap masih banyak waktu yang di berikan Allah
kepadanya, inilah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v QS. 68 : 15
15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia
berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
Ayat sebelumnya di surah 68 : 14 menyatakan bahwa karena dia
kaya dan memiliki banyak anak, maka disambung oleh ayat ini, Ciri yang keempat
adalah “Gelisah, banyak alasan karena merasa punya sesuatu”,
Maka perhatikanlah sangat jarang dan susah bagi orang-orang
kaya untuk dekat kepada Allah. karena sudah merasa memiliki dan bisa membeli
apa saja dengan hartanya menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Tatkala cerita orang
kaya kita tahu bahwasanya di zaman musa ada “Qorun”, seorang konglomerat besar
pada masanya. Namun dengan segala hal yang dimilikinya membuatnya tidak semakin
dekat kepada Allah. perhatikan pula “Fir’aun” yang merasa punya kekuasaan, ada
pula “Hamman” yang merasa memilki pengetahuan, dan juga “Samiri” yang sudah
merasa memiliki kebaikan namun ingin dipuji oleh orang lain. Semuanya
kepemilikan mereka membuatnya menjadi orang-orang ASATHIRU AWWALIN sebagai
contoh buat pelajaran manusia semua.
Termasuk saat ini, banyak sekali orang yang merasa kaya,
merasa punya ilmu dan kekuasaan “sangat sulit untuk bertaqwa kepada Allah swt”,
ada yang mengaku sibuk, ada yang mengatakan tidak ada waktu untuk mengaji
karena banyaknya pekerjaan. Mereka semakin tersiksa dengan apa yang dimilikinya
dan semakin tersiksa karena Allah ditinggalkannya. Sikap inilah yang menjadikan
ciri orang ASATHIRUL AWWALIN.
v QS. 83 : 13
13.
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah
dongengan orang-orang yang dahulu”
Di ayat sebelumnya mengatakan bahwa mereka mendustakan hari
pembalasan, maka ciri yang kelima adalah “Mendustakan Hari pembalasan”.
Banyak bukti yang kita lihat, banyak orang yang melakukan
keburukan tanpa memikirkan akibat yang dilakukannya, banyak orang kaya yang
licik, orang pintar yang menipu, dan penguasa yang liar tidak perduli kepada
rakyatnya, maka termasuklah mereka itu dalam garis ASATHIRUL AWWALIN. Mereka
mendustakan hari pembalasan Allah.
Semua tahu mati, semua tahu pasti kiamat itu ada, tapi kenapa
masih banyak pencuri, korupsi, jauh dari Allah, tidak mau bertaubat,
mengabaikan Al-Qur’an, tidak sholat, dan sebagainya. Itulah orang-orang
ASATHIRUL AWWALIN”.
v QS. 46 : 17
17.
dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya,
Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan,
Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya
itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu,
berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu Dia berkata: “Ini
tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
Kata-kata “UF” pada ayat diatas adalah simbol keluhan,
maka ciri keenam ini adalah “merasa pintar, suka mengeluh, selalu capek dan
dan suka membantah.
Rasanya banyak sekali manusia yang termasuk dalam gari bagian
ini. Banyak orang miskin yang mengeluh dengan kemiskinannya, orang kaya mengeluh
karena merasa kurang dengan apa yang dimilikinya, orang pintar mauoun orang
bodoh masih banyak yang suka mengeluh. Tidak ada uang mengeluh juga, ada uang
merasa tidak puas dan sebagainya.
Dan ketika kebenaran datang kepadanya maka dirinya selalu membantah
dan tidak mau mengikutinya, itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN.
v QS. 06 : 25
25.
dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, Padahal Kami telah
meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan
(kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda
(kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka
datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata:
"Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."
Ciri yang ketujuh ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Hati dan
telinganya tersumbat, serta dirinya hanya mau dengar oleh orang lain namun
dirinya tidak mau mendengarkan orang lain”.
Ini termasuk hal yang sangat berat, ketika ada orang tua
menasehati yang benar, banyak yang melawan, ketika perkataan yang benar datang
dari anak kecil kepada orang tua, dianggap anak itu masih kecil dan sok
mengajari orang tua, suami hanya mau di dengar tapi tidak mau mendengarkan
istrinya. Begitu pula sebaliknya dan seterusnya.
Hal yang paling berat adalah bagaimana diri bisa mendengarkan
orang lain, sebab terlampau banyak yang kita ketahui, terlampau luas ketinggian
diri kita sehingga berat mendengarkan sedikit kebenaran dari orang lain.
Makanya dalam hal ini tidak ada istilah “Senior dan junior,
tidak ada istilah tua maupun muda” sebab kalau ini kuat di dalam diri maka inilah
yang menyumbat hati dan telinga dari mendengarkan orang lain. Sebab kalau sudah
merasa tua dan berpengalaman berat untuk mendengar orang muda yang benar, kalau
sudah merasa senior maka tidak akan mau mendengarkan yang benar dari junior,
begitulah seterusnya.
Itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v QS. 25 : 05
5.
dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya
supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya Setiap pagi dan
petang."
Perhatikan ketujuh ayat yang menjadi ciri Asathirul Awwalin
sebelumnya dibandingkan dengan ayat ini, maka akan terlihat satu perbedaan yang
mencolok dan unik.
Perkataan “ASATHIRUL AWWALIN” pada ayat sebelumnya selalu berada
di akhir ayat atau di ujung ayat, sebaliknya pada ayat ini, perkataan itu Allah
tuliskan didepan ayat atau sebagai pembuka kalimat ayat.
Kalaulah kita pikirkan dan menarik sebuah kesimpulan yang
sederhana maka kita akan dapat melihat bahwa, ciri kedelapan ASATHIRUL AWWALIN
ini adalah “Otobiograpi atau ingin selalu menunjukkan siapa dirinya”.
Maksudnya adalah setiap dia berkarya melakukan sesuatu, dia
selalu menganggap bahwa dirinyalah yang melakukan itu semua, seolah bahwa kalau
tidak ada dirinya maka tidak akan mungkin terjadi. Nah inilah sikap dan sifat
yang sangat berbahaya. Sebab ini adalah sifat Iblis.
Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada nabi Adam,
hanya Iblis yang menolak karenba begitu kuatnya “Otobiografi” dirinya. Dia
merasa banyak berjasa karena langit dan bumi adalah ciptaan Allah melalui kerja
tangan Iblis, karena merasa berjasa yang sangat besar itulah Iblis tidak mau
bersujud hingga menjadikan dirinya menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah
sebagai penghuni neraka kelak.
Jadi kalau ada orang mengatakan, dan sikap dirinya menyatakan
bahwa segala sesuatu itu terjadi karena dirinya, karena kerja keras dan susah
payahnya, maka dirinya sudah termasuk Iblis dan atau sudah menjadi ASATHIRUL
AWWALIN.
Karena itu jangan tunjukkan siapa diri ini kepada orang lain,
jangan tunjukkan diri sudah berjasa, jangan tunjukkan diri ini sudah banyak
berkarya, jangan pula merasa hanya diri ini yang melakukan sedangkan menganggap
orang lain tidak bisa apa-apa. Biarkan hanya diri sendiri dan Allah saja yang
melihat serta menilai karya ataupun perbuatan yang dilakukan. Jangan tunjukkan
kepada siapapun diri sudah melakukan banyak hal. Tapi ciptakanlah sikap bahwa
diri ini belum melakukan apa-apa dan belum ada menciptakan karya apapun juga
agar terciptanya diri yang rendah hati.
TAHAP
KEEMPAT
Nah sebagai penutup kajian yang sederhana ini, maka untuk
mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini agar tidak menjadi pola sikap dan tindakan
dalam hidup, maka mengambil pamungkas di surah 25 ayat 05 diatas tadi. Bahwa
sesuai dengan surah di dalam Al-Qur’an, yang menjadi urutan ke 25 dalam
Al-Qur’an adalah surah AL-FURQAN.
Itulah yang mampu mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini, sebab
dengan kemapuan itulah diri mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk
serta mana yang benar dan mana yang salah.
kemampuan AL-FURQAN ini pada Hakikatnya adalah “AL-QUR’AN.
Maka satu-satunya yang mampu menjadi alat pelindung dari
asathirul awwalin ini adalah kitabullah Al-Qur’anil Karim. Siapa pun yang
menjauhkan diri daripada Al-Qur’an maka menjadi Iblis lah dirinya dalam bentuk
sebutan “MAKHLUK ASATHIRUL AWWALIN”.
0 komentar:
Posting Komentar