Pages

Jumat, 09 Agustus 2013

ciri manusia binasa yang mengatkan Al Qur'an dongeng2 terdahulu.



Ashatirulawwaalin.
Al-Qur’an merupakan satu-satunya media Allah yang diberikan kepada manusia untuk menjawab segala macam hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan yang dialami manusia itu sendiri. Memasuki tahap demi tahap lintasan ayat perayat di dalam Al-Qur’an, ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami maknanya sebagai pola kecerdasan untuk dekat kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali terdapat sandi-sandi rahasia, yang semuanya berisi penuh dengan wawasan dan pengetahuan sekaligus ada pola bertindak yang benar dari setiap ayat “KITABULLAH” itu. Segala macam pernak-perniknya sangat rinci Allah jelaskan sebagai bahan untuk berperilaku yang pantas sebagai manusia terhadap kehendak Allah.
Salah satu sandi yang menarik untuk dibahas dan dipelajari dari Al-Qur’an sekarang adalah tentang “ASATHIIRUL AWWALIN” atau “DONGENGAN PURBAKALA”. Karena banyak manusia yang sedikit asing dan saru tentang pemahaman “Dongeng Orang Terdahulu” ini, bahkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang makna “Asathirul Awwalin” begitu sulit dipahami dan jarang diteliti, sebab dianggap ayat-ayatnya atau “Asathirul Awwalin” hanyalah informasi yang berlaku kepada orang-orang terdahulu saja.
Mari perhatikan
TAHAP PERTAMA
Awalnya orang-orang dahulu mati-matian bekerja keras dan berjuang susah payah mengarungi bahtera kehidupan untuk mempertahankan populasi dirinya sebagai umat manusia. Dalam keadaan kerasnya perjuangan itu, semua orang dengan berbagai cara melakukan tindakan untuk mempertahankan diri dan hidupnya serta mempertahankan apa yang dimilikinya.
Pada saat itu, cara orang-orang mempertahankan hidup sangat unik dan menarik. Karena cara yang dipakai bukan dengan kekerasan, bukan dengan perang, juga bukan dengan berbunuh-bunuhan. Tapi orang-orang pada waktu itu mempertahankan diri dengan “BICARA” nya. Alias siapa yang paling pandai berbicara, ahli motivasi dan ahli komunakasi. Maka dialah yang akan menjadi penguasa sekaligus bisa bertahan hidup.
Jadi dari bicaranya, orang-orang pada waktu itu mampu memberikan kekuatan tersendiri untuk menarik hati siapa saja dalam rangka untuk mengumpulkan kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Dan dari sinilah muncul adanya perang antar pengaruh. Sehingga yang paling kuat bicaranya untuk mempengaruhi orang lain maka semakin berkuasalah dirinya dan semakin terjagalah hidupnya. Bahkan dari sini pula lahirnya ahli penyair-penyair dunia yang begitu luar biasa hebat dan berpengaruhnya perkataan seseorang untuk menarik jiwa siapa saja dibawah kendalinya. Dengan kemampuan berkata-kata inilah asal muasal hidupnya “Sang ASATHIIRUL AWWALIN”. Yaitu orang-orang yang senantiasa dengan perkataannya itu dalam rangka mengejek orang lain.
TAHAP KEDUA
Sejak saat itu berkembanglah “Asathiirul Awwalin” yang sejak dahulu sampai sekarang berkembang menjadi sikap dan tindakan hidup sebagian banyak manusia. Sehingga menciptakan orang-orang yang begitu hebat perkataannya dan suka mengolok-olok orang lain yang benar karena dianggap hanya merekalah yang hebat. Bahkan di zaman rasulullah saja orang-orang “Asathiirul Awwalin” ini begitu pesat berkembang.
Ketika Rasulullah ada sebagai utusan Allah untuk membawakan ajaran yang benar kepada mereka semua, yang membawa ketauhidan yang sempurna dengan Al-Qur’an untuk bertuhankan kepada Allah semata, orang-orang pada waktu itu membantahnya dan mengolok-olok rasulullah dengan perkataan yang sifatnya mengejek padahal kebenaran itu nyata, menunjukkan betapa merasa hebatnya orang-orang “Asathirul Awwalin” itu daripada orang lain.
Di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan di surah An-Nahl(16) ayat 24 – 29 :
24. dan apabila dikatakan kepada mereka "Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang dahulu",
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada manusia yang dibawa oleh Rasulullah sebagai media untuk petunjuk hidup. Namun ketika itu saat Al-Qur’an itu nyata dan benar adanya sebagai kebenaran dari Allah, orang-orang pada waktu itu menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng saja, bahkan Rasulullah dianggap sebagai tukang sihir dan sebagainya.
Orang-orang pada waktu itu melontarkan perkataan yang menyulitkan diri mereka sendiri, menghina, mencaci, menganggap remeh dan banyak urusan, tapi tidak mau menerima kebenaran. itulah yang namanya “ASATHIRUUL AWWALIN”.
Bahkan Al-Qur’an saja dianggap sebagai buku dongeng bukan sebagai petunjuk Allah, maka sudah barang tentulah siapa saja orang yang mengolok-olok Allah dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan, bertindaknya mengabaikan Al-Qur’an dan sulit mendengarkan orang lain, maka dia termasuk dalam golongan orang-orang “Asathirul Awwalin”.
Kemudian selanjutnya di surah 16 : 25 – 29
25. (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, Amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
26. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah Mengadakan makar, Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.
27. kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu: "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir",
28. (yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan".
29. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.
Nah pada ayat 25 di atas Allah tegas menjelaskan bahwa perkataan orang-orang “Asathirul Awwalin” menyebabkan mereka menanggung beban dan dosa yang memberatkan diri mereka sendiri, dan membuat mereka jadi sesat.
Jadi contoh sederhana misalnya ada orang mengatakan “AYOLAH BERTAUBAT KEPADA ALLAH, PELAJARILAH AL-QUR’AN”, maka orang yang Asathirul Awwalin mengatakan “NANTI SAJA, UMURKU MASIH MUDA, NANTI SAJA SETELAH TUA BARU BELAJAR, AL-QUR’AN KAN UNTUK ORANG TUA SAJA, DAN UNTUK ORANG YANG AHLI BAHASA ARAB SAJA, AKU KAN ORANG AWAM YANG TIDAK TAHU APA-APA”.
Maka ketahuilah sesungguhnya orang-orang yang mengatakan hal itu sungguh akan menerima beban dan memikul dosa yang berat kelak dihadapan Allah, karena perkataan yang dilontarkannya bermain-main terhadap peringatan Allah, alias dirinya sudah termasuk dalam bagian orang-orang “ASATHIRUL AWWALIN”.
Pada ayat selanjutnya semakin berat ancaman Allah kepada orang-orang ASATHIRUL AWWALIN ini, Allah akan membinasakannya, dan mencemooh serta menhinakannya, dirinya akan hancur, bahkan malaikat pun akan mencabut dengan keras nyawanya diambang kematian, dan lebih mengerikan lagi neraka jahannam sebagai tempat tinggalnya yang abadi.
Naudzu Billahi Min Dzaalik.
Karena itu perhatikan benar perkataan yang akan diucapkan baik kepada diri maupun kepada orang lain, terlebih lagi perkataan terhadap ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), jika perkataan yang keluar adalah dalam rangka mengolok-olok dan bermain-main serta membuat sulit diri sendiri untuk membahas sesuatu tetapi diri ini tidak mau melakukan yang benar, maka termasuklah diri ini sebagai makhluk ASATHIRUL AWWALIN itu.
Sebagaimana di zaman nabi MUSA as, ketika kaumnya disuruh menyembelih sapi betina, kaumnya malah bertanya hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan, karena apa yang diperintahkan Allah kepada Musa terhadap kaumnya adalah perintah Allah yang harus dilakukan, namun karena kaumnya melakukan sesuatu, banyak bertanya dan sebagainya dalam rangka membuat sulit mereka sendiri, sebab untuk diperintahkan menyembelih sapi betina saja harus ditanya warnanya apa, kulitnya bagaimana dan sebagainya, namun akhirnya mereka tidak melakukannya, itulah prototipe contoh orang-orang Asathirul Awwalin.
TAHAP KETIGA
Mengenai hal ini, ada delapan Ciri-ciri “Asathirul Awwalin” itu, :
v  QS. 08 : 31
31. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menhendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".
Ciri yang pertama orang-orang Asathiirul Awwalin adalah merasa seolah-olah mampu berbuat sesuatu, sok tahu dan sebagainya padahal dirinya tidak tahu apa-apa hingga menciptakan kesombongan pada dirinya.
Jadi kalau misalnya ada orang yang mengatakan “Akupun bisa melakukan seperti itu” dan meremehkan orang lain, namun dibalik perkataannya itu dirinya tidak mampu melakukan apa-apa yang lebih baik, seolah-olah banyak komentar dan kurang puas terhadap orang lain. Maka sungguh dirinya sudah termasuk Asathirul Awwalin.
Jadi ASATHIRUL AWWALIN bukanlah sekedar ayat di dalam Al-Qur’an sebagai sebuah cerita yang dilakukan oleh orang-orang dahulu saja, tetapi ASATHIRUL AWWALIN ini sudah pecah menjadi perilaku universal dari nabi Adam sampai hari kiamat yang banyak diantara manusia melakukan hal ini. Alias ayat tentang Asathirul Awwalin ini berlaku sepanjang masa terhadap seluruh kehidupan manusia.
v  QS. 23 : 83
83. Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!".
Ciri yang kedua orang asathirul awwalin ini adalah “lebih memilih nenek moyangnya untuk diikiti daripada Allah, alias menuhankan nenek moyangnya”.
Maka khususnya di Indonesia banyak sekali hal-hal yang bertaliat kuat dengan budaya dan peradaban nenek moyang ini, dalam beragamna pun, Islam di Indonesia sudah tidak murni lagi islamnya sebab sudah bercampur baur dengan sentuhan adat istiadat nenek moyang.
Misalnya saja adanya kematian harus ada acara “Haul” atau ulang tahun meninggalnya seseorang, kalau tidak dilakukan seolah-olah berdosa dan bersalah dihadapan Allah. sehingga mati-matian seorang anak dan keluarga mengusahan mencari dana untuk mengadakan acara yang dianggap benar tadi. Ketika ditanya mengapa semua itu dilakukan, orang-orang hanya menjawab bahwa semua itu adalah yang dilakukan oleh nenek moyang kami yang terdahulu. Sehingga banyak orang-orang liar yang mengikuti sesuatu dari nenek moyangnya tanpa tahu makna apa yang ada dari hal-hal yang dilakukannya. Selain itu masih banyak lagi contoh-contoh untuk menggambarkan bahwa banyak diantara manusia yang menuhankan adatnya ketimbang cara Allah.
v  QS. 27 : 68
68. Sesungguhnya Kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak Kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala".
Ciri yang ketiga adalah mereka “Tidak tajut ancaman dan neraka”.
Semua manusia tahu bahwa dirinya pasti mati dan menghadap Allah, namun banyak diantara manusia yang lalai dan tidak mempersiapkan bekal kematiannya dengan benar. Maka prototipe seperti ini adalah penentang Allah dan berani menghadapi ancaman Allah kelak.
Banyak manusia yang gila harta dan dunia, terlambat memperbaiki diri, menolak kebenaran, dan terjebak dengan permainan dunia ini, sehingga melupakan diri kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala hal yang diperbuat. Dan tidak jarang ketika disuruh taubat banyak yang belum siap dan masih menganggap masih banyak waktu yang di berikan Allah kepadanya, inilah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v  QS. 68 : 15

15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
Ayat sebelumnya di surah 68 : 14 menyatakan bahwa karena dia kaya dan memiliki banyak anak, maka disambung oleh ayat ini, Ciri yang keempat adalah “Gelisah, banyak alasan karena merasa punya sesuatu”,
Maka perhatikanlah sangat jarang dan susah bagi orang-orang kaya untuk dekat kepada Allah. karena sudah merasa memiliki dan bisa membeli apa saja dengan hartanya menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Tatkala cerita orang kaya kita tahu bahwasanya di zaman musa ada “Qorun”, seorang konglomerat besar pada masanya. Namun dengan segala hal yang dimilikinya membuatnya tidak semakin dekat kepada Allah. perhatikan pula “Fir’aun” yang merasa punya kekuasaan, ada pula “Hamman” yang merasa memilki pengetahuan, dan juga “Samiri” yang sudah merasa memiliki kebaikan namun ingin dipuji oleh orang lain. Semuanya kepemilikan mereka membuatnya menjadi orang-orang ASATHIRU AWWALIN sebagai contoh buat pelajaran manusia semua.
Termasuk saat ini, banyak sekali orang yang merasa kaya, merasa punya ilmu dan kekuasaan “sangat sulit untuk bertaqwa kepada Allah swt”, ada yang mengaku sibuk, ada yang mengatakan tidak ada waktu untuk mengaji karena banyaknya pekerjaan. Mereka semakin tersiksa dengan apa yang dimilikinya dan semakin tersiksa karena Allah ditinggalkannya. Sikap inilah yang menjadikan ciri orang ASATHIRUL AWWALIN.

v  QS. 83 : 13

13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”
Di ayat sebelumnya mengatakan bahwa mereka mendustakan hari pembalasan, maka ciri yang kelima adalah “Mendustakan Hari pembalasan”.
Banyak bukti yang kita lihat, banyak orang yang melakukan keburukan tanpa memikirkan akibat yang dilakukannya, banyak orang kaya yang licik, orang pintar yang menipu, dan penguasa yang liar tidak perduli kepada rakyatnya, maka termasuklah mereka itu dalam garis ASATHIRUL AWWALIN. Mereka mendustakan hari pembalasan Allah.
Semua tahu mati, semua tahu pasti kiamat itu ada, tapi kenapa masih banyak pencuri, korupsi, jauh dari Allah, tidak mau bertaubat, mengabaikan Al-Qur’an, tidak sholat, dan sebagainya. Itulah orang-orang ASATHIRUL AWWALIN”.
v  QS. 46 : 17
17. dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
Kata-kata “UF” pada ayat diatas adalah simbol keluhan, maka ciri keenam ini adalah “merasa pintar, suka mengeluh, selalu capek dan dan suka membantah.
Rasanya banyak sekali manusia yang termasuk dalam gari bagian ini. Banyak orang miskin yang mengeluh dengan kemiskinannya, orang kaya mengeluh karena merasa kurang dengan apa yang dimilikinya, orang pintar mauoun orang bodoh masih banyak yang suka mengeluh. Tidak ada uang mengeluh juga, ada uang merasa tidak puas dan sebagainya.
Dan ketika kebenaran datang kepadanya maka dirinya selalu membantah dan tidak mau mengikutinya, itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN.
v  QS. 06 : 25
25. dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."
Ciri yang ketujuh ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Hati dan telinganya tersumbat, serta dirinya hanya mau dengar oleh orang lain namun dirinya tidak mau mendengarkan orang lain”.
Ini termasuk hal yang sangat berat, ketika ada orang tua menasehati yang benar, banyak yang melawan, ketika perkataan yang benar datang dari anak kecil kepada orang tua, dianggap anak itu masih kecil dan sok mengajari orang tua, suami hanya mau di dengar tapi tidak mau mendengarkan istrinya. Begitu pula sebaliknya dan seterusnya.
Hal yang paling berat adalah bagaimana diri bisa mendengarkan orang lain, sebab terlampau banyak yang kita ketahui, terlampau luas ketinggian diri kita sehingga berat mendengarkan sedikit kebenaran dari orang lain.
Makanya dalam hal ini tidak ada istilah “Senior dan junior, tidak ada istilah tua maupun muda” sebab kalau ini kuat di dalam diri maka inilah yang menyumbat hati dan telinga dari mendengarkan orang lain. Sebab kalau sudah merasa tua dan berpengalaman berat untuk mendengar orang muda yang benar, kalau sudah merasa senior maka tidak akan mau mendengarkan yang benar dari junior, begitulah seterusnya.
Itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v  QS. 25 : 05
5. dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya Setiap pagi dan petang."
Perhatikan ketujuh ayat yang menjadi ciri Asathirul Awwalin sebelumnya dibandingkan dengan ayat ini, maka akan terlihat satu perbedaan yang mencolok dan unik.
Perkataan “ASATHIRUL AWWALIN” pada ayat sebelumnya selalu berada di akhir ayat atau di ujung ayat, sebaliknya pada ayat ini, perkataan itu Allah tuliskan didepan ayat atau sebagai pembuka kalimat ayat.
Kalaulah kita pikirkan dan menarik sebuah kesimpulan yang sederhana maka kita akan dapat melihat bahwa, ciri kedelapan ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Otobiograpi atau ingin selalu menunjukkan siapa dirinya”.
Maksudnya adalah setiap dia berkarya melakukan sesuatu, dia selalu menganggap bahwa dirinyalah yang melakukan itu semua, seolah bahwa kalau tidak ada dirinya maka tidak akan mungkin terjadi. Nah inilah sikap dan sifat yang sangat berbahaya. Sebab ini adalah sifat Iblis.
Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada nabi Adam, hanya Iblis yang menolak karenba begitu kuatnya “Otobiografi” dirinya. Dia merasa banyak berjasa karena langit dan bumi adalah ciptaan Allah melalui kerja tangan Iblis, karena merasa berjasa yang sangat besar itulah Iblis tidak mau bersujud hingga menjadikan dirinya menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah sebagai penghuni neraka kelak.
Jadi kalau ada orang mengatakan, dan sikap dirinya menyatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi karena dirinya, karena kerja keras dan susah payahnya, maka dirinya sudah termasuk Iblis dan atau sudah menjadi ASATHIRUL AWWALIN.
Karena itu jangan tunjukkan siapa diri ini kepada orang lain, jangan tunjukkan diri sudah berjasa, jangan tunjukkan diri ini sudah banyak berkarya, jangan pula merasa hanya diri ini yang melakukan sedangkan menganggap orang lain tidak bisa apa-apa. Biarkan hanya diri sendiri dan Allah saja yang melihat serta menilai karya ataupun perbuatan yang dilakukan. Jangan tunjukkan kepada siapapun diri sudah melakukan banyak hal. Tapi ciptakanlah sikap bahwa diri ini belum melakukan apa-apa dan belum ada menciptakan karya apapun juga agar terciptanya diri yang rendah hati.
TAHAP KEEMPAT
Nah sebagai penutup kajian yang sederhana ini, maka untuk mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini agar tidak menjadi pola sikap dan tindakan dalam hidup, maka mengambil pamungkas di surah 25 ayat 05 diatas tadi. Bahwa sesuai dengan surah di dalam Al-Qur’an, yang menjadi urutan ke 25 dalam Al-Qur’an adalah surah AL-FURQAN.
Itulah yang mampu mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini, sebab dengan kemapuan itulah diri mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk serta mana yang benar dan mana yang salah.
kemampuan AL-FURQAN ini pada Hakikatnya adalah “AL-QUR’AN.
Maka satu-satunya yang mampu menjadi alat pelindung dari asathirul awwalin ini adalah kitabullah Al-Qur’anil Karim. Siapa pun yang menjauhkan diri daripada Al-Qur’an maka menjadi Iblis lah dirinya dalam bentuk sebutan “MAKHLUK ASATHIRUL AWWALIN”.

0 komentar:

Posting Komentar