Kacaunya Sebuah Ukuran
MAHA Suci Allah yang telah menciptakan sebuah kata bernama ‘ukuran’.
Dengan ‘ukuran’ itu pula manusia jadi tahu mana yang pas mana yang
tidak, mana yang sesuai selera mana yang tidak. Seperti halnya memasak,
jika memanggang kue lebih dari waktu yang sudah ditentukan, maka kue
bisa menjadi gosong.
Padahal mengemudi, jika si pengendara akan mengemudikan mobil untuk
perjalanan jauh, biasanya ia sudah tahu berapa banyak liter bensin yang
dibutuhkan. Contoh yang lain, pada perlombaan mencari bakat menyanyi,
para juri sudah peka dan bisa membedakan mana yang termasuk suara tinggi
dan mana yang suara rendah dari para kontestan.
Kita semua pastinya sepakat bahwa segala sesuatu hal yang ada dimulai
dari bagaimana paradigma atau cara berpikir kita terhadap hal itu.
Biasanya kita mendengar atau mengucapkan, “Semua dikembalikan pada
individu masing-masing.” Tidak ada yang salah dari kalimat tersebut.
Hanya saja kita perlu menyadari bahwa setiap pemikiran itu sebenarnya
juga memiliki ukuran masing-masing.
Angka dari lamanya waktu memanggang kue, banyaknya bensin, dan
tingginya suara yang dihasilkan pastinya telah berdasarkan hasil
penelitian dan pengalaman yang tidak sebentar. Penelitian tergantung
dari sumber yang digunakan dan pengalaman tergantung dari pembelajaran
yang diambil. Ya, ternyata syarat untuk menghasilan yang baik itu
semuanya berasal dari titik ukur dan bagi sebuah pemikiran.
Semua titik ukur itu sejatinya harus dinyatakan dalam sebuah aturan,
termasuk titik ukur kita dalam memandang peristiwa dalam kehidupan.
Seorang masterchef tunduk pada resep yang pernah diajarkannya.
Seorang pengemudi yang handal patuh pada ketentuan penggunaan kendaraan.
Seorang juri yang profesional taat pada aturan batasan level oktaf
suara penyanyinya.
Begitupun dengan kehidupan. Sebagai makhluk Allah, layaknya kita
tunduk, patuh, dan taat pada ukuran-ukuran yang telah Allah nyatakan
dalam aturan-Nya. Dia yang Maha Mengatur dan Maha Mengukur semua aspek
yang terjadi pada kehidupan kita.
Sayangnya, saat aturan-aturan Allah itu sudah ditetapkan untuk kita,
banyak dalih yang berhamburan muncul di pikiran kita. Manusia memang
seringkali mengandalkan pemikirannya tanpa ia ingat bahwa ada aturan
yang sebenarnya harus dipijak untuk mengatur ukuran pemikirannya.
Kekuatan pikiran manusia pun terbatas dari apa yang dilihat dan
didengar saja. Masih dangkal. Karena itu, sangat wajar jika kualitas
hidup pun masih carut marut tak karuan, sehingga masih sulit membedakan
mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah.
Media, jelas tak lepas dari pengaruh pemikiran seseorang. Apapun
bentuk media itu, lambat laun akan mempengaruhi pemikiran, dan berujung
pada bagaimana ukuran dari pemikiran dalam menanggapi media tersebut.
Cukup jauh kaum Muslim tertinggal dari segi media saat ini, terlebih
sedikitnya media yang digunakan untuk keberpihakan Islam dan banyaknya
gempuran media yang digunakan untuk memojokkan Islam.
Propaganda-propaganda itu kini telah banyak memutarbalikkan sudut
pandang seseorang. Lama-kelamaan, masyarakat akan lebih takut kepada
pria yang berjenggot, bercelana cingkrang dan berjidat hitam ketimbang
pria bertato, berkalung dan beranting-anting. Lama-kelamaan, masyarakat
akan lebih risih melihat perempuan berkerudung gelap, bercadar,
ketimbang perempuan berbaju seksi berdandan menor.
Lama-kelamaan, masyarakat lebih menaruh curiga kepada pria yang di
rumahnya sering ada pengajian ketimbang pria yang sering nongkrong di
pinggiran jalan. Lama-kelamaan masyarakat menilai jilbab yang bagus itu
seperti yang digunakan kebanyakan artis-artis atau sesuai dengan tren mode
yang sedang berlaku, tidak lagi melihat dari landasan aturan yang
sebenarnya dan dengan dalih kepatutan, kepantasan, serta keindahan.
Saudaraku, begitulah juga untuk pandangan kita pada Palestina. Ukuran
yang kita ambil dalam memikirkan mereka seharusnya sesuai dengan aturan
Allah. Sebagaimana dalam QS. Al Hujurat: 10 dikatakan bahwa semua
muslim itu bersaudara serta diperkuat dalam sebuah hadits bahwa muslim
itu ibarat satu tubuh. Sehingga, tak pantas kita membedakan, mana muslim
Poso, muslim Ambon, mana muslim Rohingya, muslim Suriah, muslim
Pattani, dan muslim Palestina serta dimanapun wilayah mereka. Saat
mereka tertindas, semua kita bantu, jika belum bisa dengan harta, maka
doa adalah jalan paling mudah dalam sebuah bantuan.
Sudahkah kita tera ulang ‘gelas ukur’ dan ‘timbangan’ kita? Apakah
kita masih menggunakan ‘timbangan’ dan ‘gelas ukur’ buatan manusia untuk
menyikapi banyak hal dalam kehidupan kita? Bergeraklah, walaupun kecil
ataupun sedikit, tapi jangan lupa, ‘gelas ukur’ dan ‘timbangan’ gerak
kita harus pas
0 komentar:
Posting Komentar