Pages

Rabu, 03 Juli 2013

Kacaunya Sebuah Ukuran

Kacaunya Sebuah Ukuran


MAHA Suci Allah yang telah menciptakan sebuah kata bernama ‘ukuran’. Dengan ‘ukuran’ itu pula manusia jadi tahu mana yang pas mana yang tidak, mana yang sesuai selera mana yang tidak. Seperti halnya memasak, jika memanggang kue lebih dari waktu yang sudah ditentukan, maka kue bisa menjadi gosong.
Padahal mengemudi, jika si pengendara akan mengemudikan mobil untuk perjalanan jauh, biasanya ia sudah tahu berapa banyak liter bensin yang dibutuhkan. Contoh yang lain, pada perlombaan mencari bakat menyanyi, para juri sudah peka dan bisa membedakan mana yang termasuk suara tinggi dan mana yang suara rendah dari para kontestan.
Kita semua pastinya sepakat bahwa segala sesuatu hal yang ada dimulai dari bagaimana paradigma atau cara berpikir kita terhadap hal itu. Biasanya kita mendengar atau mengucapkan, “Semua dikembalikan pada individu masing-masing.” Tidak ada yang salah dari kalimat tersebut. Hanya saja kita perlu menyadari bahwa setiap pemikiran itu sebenarnya juga memiliki ukuran masing-masing.
Angka dari lamanya waktu memanggang kue, banyaknya bensin, dan tingginya suara yang dihasilkan pastinya telah berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman yang tidak sebentar. Penelitian tergantung dari sumber yang digunakan dan pengalaman tergantung dari pembelajaran yang diambil. Ya, ternyata syarat untuk menghasilan yang baik itu semuanya berasal dari titik ukur dan bagi sebuah pemikiran.
Semua titik ukur itu sejatinya harus dinyatakan dalam sebuah aturan, termasuk titik ukur kita dalam memandang peristiwa dalam kehidupan. Seorang masterchef tunduk pada resep yang pernah diajarkannya. Seorang pengemudi yang handal patuh pada ketentuan penggunaan kendaraan. Seorang juri yang profesional taat pada aturan batasan level oktaf suara penyanyinya.
Begitupun dengan kehidupan. Sebagai makhluk Allah, layaknya kita tunduk, patuh, dan taat pada ukuran-ukuran yang telah Allah nyatakan dalam aturan-Nya. Dia yang Maha Mengatur dan Maha Mengukur semua aspek yang terjadi pada kehidupan kita.
Sayangnya, saat aturan-aturan Allah itu sudah ditetapkan untuk kita, banyak dalih yang berhamburan muncul di pikiran kita. Manusia memang seringkali mengandalkan pemikirannya tanpa ia ingat bahwa ada aturan yang sebenarnya harus dipijak untuk mengatur ukuran pemikirannya.
Kekuatan pikiran manusia pun terbatas dari apa yang dilihat dan didengar saja. Masih dangkal. Karena itu, sangat wajar jika kualitas hidup pun masih carut marut tak karuan, sehingga masih sulit membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah.
Media, jelas tak lepas dari pengaruh pemikiran seseorang. Apapun bentuk media itu, lambat laun akan mempengaruhi pemikiran, dan berujung pada bagaimana ukuran dari pemikiran dalam menanggapi media tersebut. Cukup jauh kaum Muslim tertinggal dari segi media saat ini, terlebih sedikitnya media yang digunakan untuk keberpihakan Islam dan banyaknya gempuran media yang digunakan untuk memojokkan Islam.
Propaganda-propaganda itu kini telah banyak memutarbalikkan sudut pandang seseorang. Lama-kelamaan, masyarakat akan lebih takut kepada pria yang berjenggot, bercelana cingkrang dan berjidat hitam ketimbang pria bertato, berkalung dan beranting-anting. Lama-kelamaan, masyarakat akan lebih risih melihat perempuan berkerudung gelap, bercadar, ketimbang perempuan berbaju seksi berdandan menor.
Lama-kelamaan, masyarakat lebih menaruh curiga kepada pria yang di rumahnya sering ada pengajian ketimbang pria yang sering nongkrong di pinggiran jalan. Lama-kelamaan masyarakat menilai jilbab yang bagus itu seperti yang digunakan kebanyakan artis-artis atau sesuai dengan tren mode yang sedang berlaku, tidak lagi melihat dari landasan aturan yang sebenarnya dan dengan dalih kepatutan, kepantasan, serta keindahan.
Saudaraku, begitulah juga untuk pandangan kita pada Palestina. Ukuran yang kita ambil dalam memikirkan mereka seharusnya sesuai dengan aturan Allah. Sebagaimana dalam QS. Al Hujurat: 10 dikatakan bahwa semua muslim itu bersaudara serta diperkuat dalam sebuah hadits bahwa muslim itu ibarat satu tubuh. Sehingga, tak pantas kita membedakan, mana muslim Poso, muslim Ambon, mana muslim Rohingya, muslim Suriah, muslim Pattani, dan muslim Palestina serta dimanapun wilayah mereka. Saat mereka tertindas, semua kita bantu, jika belum bisa dengan harta, maka doa adalah jalan paling mudah dalam sebuah bantuan.
Sudahkah kita tera ulang ‘gelas ukur’ dan ‘timbangan’ kita? Apakah kita masih menggunakan ‘timbangan’ dan ‘gelas ukur’ buatan manusia untuk menyikapi banyak hal dalam kehidupan kita? Bergeraklah, walaupun kecil ataupun sedikit, tapi jangan lupa, ‘gelas ukur’ dan ‘timbangan’ gerak kita harus pas

0 komentar:

Posting Komentar