siapakah diri kita ini jika kita berhadapan dengan Allah, atau pantaskah diri kita ini dikatakan abdi Allah atau hamba Allah yang benar dan baik. jika kiranya diri kita ini belum ada apa-apanya dimata Allah, apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita perbuat sehingga mampu untuk mengangkat kedudukan kita dimata Allah, sudahkah kita seperti sosok seorang ayah atau bapak yang baik laksana nabi ibrahim yang rela berjuang meninggalkan anak istri untuk mencari ridhanya, sudahakah diri kita ini menjadi sosok seorang anak yang benar seperti nabi ismail yang siap dikorbankan, sudahkah diri kita ini menjadi sosok istri seperti siti hajar yang siap merelakan dirinya ditinggalkan suami untuk waktu yang lama dalam mencari makna hidup yang sesungguhnya, inilah ajaran yang diajarkan Allah lewat keluarga yang beriman, jika kita seorang suami yang benar sudahkah diri kita ini membimbing keluarga anak dan istri kita untuk bertujuan kepada Allah atau barangkali diri kita ini hanya sibuk memenuhi kebutuhan zahir keluarga kita namun melupakan kebutuhan batin keluarga kita, seorang bapak atau kepala rumah tangga tugasnya bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup saja namun yang lebih penting adalah bagaimana dirinya menjadikan keluarganya beriman dan bertaqwa hanya kepada Allah saja, Allah dalam Al Qur'an telah mengajarkan kepada seorang bapak yang benar dan baik lewat seorang nabi ibrahim yang selalu mengarahkan diri dan keluarganya hanya kepada Allah semata, namun Allah juga menggambarkan kepada kita manusia ada sosok bapak yang salah yaitu abu lahab yang selalu memusuhi petunjuk yang dibawa oleh nabiyullah muhammad SAW. yang selalu menghidupkan api kemarahan dan api ketidaksukaan kepada petunjuk Allah, dahulu memang abu lahab (bapak) memusuhi nabi muhammad namun sekarang nabi sudah tidak adalagi, tapi nilai bapak atau kepala keluarga yang salah adalah ketika dirinya tidak mampu untuk mengarahkan anak kepada Al Qur'an hampir sama nilainya memusuhi nabi, bukankah nabi membawa Al Qur'an untuk kita umat manusia, seorang bapak yang dengan sadar bahwa dirinya tidak mengarahkan anaknya untuk belajar dan mengajarkan qur'an kepada keluarganya, maka nilainya sama dia adalah seorang abu lahab yang dengan terang2an tidak suka dengan Al Qur'an.
andaikan kita seorang anak maka dimanakah kita berada apakah anak yang benar dan baik seperti nabi ismail yang selalu mencoba untuk tabah dan belajar atas petunjuk Allah yang Allah berikan, ataukah kita seperti kan'an anak dari nabi nuh yang tidak mau mengambil petunjuk yang diajarkan Allah lewat bapaknya, dan akhirnya ditenggelamkan Allah lewat banjir yang dasyat.
ataukah kita seorang istri yang siap membantu keluarga untuk bertujuan kepada allah seperti siti hajar yang selalu mendukung nabi ibrahim untuk berjuang kepada Allah, atau juga barang kali kita adalah seorang istri abu lahab yang selalu mendukung suami untuk melawan Allah dan rasulnya,
pilihan tergantung dengan anda...................
0 komentar:
Posting Komentar