Pages

Jumat, 09 Agustus 2013

AL QUR’AN Hudan – bayinat – furqan




Qs Al baqarah ayat 185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Kitabullah, Kitab penuh hikmah, petunjuk bagi manusia seluruh zaman dan seluruh keadaan dan tempat manusia bertanya untuk mewujudkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Banyak orang berkata bahwa kitab suci diturunkan adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia, lalu semua manusia setuju. Pernyataan ini memang benar, tetapi bila manusia kurang teliti terhadap kata di balik Petunjuk itu akan berakibat fatal bagi manusia dan peradabannya. Karena ada dua kriteria yang terdapat di balik kata Petunjuk itu, yang akan menawarkan dua prilaku pula bagi manusia. Namun sebelum merinci tentang kriteria petunjuk itu manusia harus periksa dahulu ‘Mengapa Petunjuk perlu bagi manusia ?’ …..Karena manusia punya pikiran. Maka petunjuk adalah konsumsi pikiran atau masalah pikiran. Tanpa pikiran maka manusia tidak akan pernah mengerti petunjuk.
Dari ayat diatas dapat kita lihat bahwa, Al Qur’an diturunkan dengan keadaan bagi manusia yaitu hudan, bayyinat dan furqan. Tentu terbesit pertanyaan dalam hati kenapa harus dengan tiga keadaan tersebut, apa dibalik makna 3 keadaan tersebut.
HUDAN- Guidance
Contohnya apabila kita ingin menuju ke suatu tempat yang  tidak pernah tahu lokasi dan gambarannya atau katakanlah kita ingin ke kuin alalak, tentu kita akan bertanya kepada seseorang yang mengetahui lokasi dan arah yang jelas sebagai informasi kepada kita. Maka orang yang memberikan informasi tersebut dikatakan memberi petunjuk dan informasi itu sendiri adalah Hudan. Analogi seperti ini merupakan sesuatu yang material.

Ketika seseorang yang merasa dirinya seorang yang tidak baik, dia berniat ingin memperbaiki dirinya, maka dia mencari seseorang yang bisa membantunya memberikan arahan jiwanya seperti datang kepada guru mengaji. Apabila ia mendapatkan arahan tersebut maka ia mendapatkan petunjuk, dan fenomena ini merupakan sesuatu yang imaterial.
Maka hudan / petunjuk sangat berkaitan erat dengan mulut manusia yang memberikan informasi, data dan arahan untuk dapat dilakukan oleh orang lain. Tentu sulit memberikan petunjuk hanya dengan jari tangan atau dengan gerakan mata. Yang dapat menjelaskan secara gamblang adalah mulut. Maka hudang / petunjuk adalah berpasangan dengan mulut manusia. Untuk itu jagalah mulut kita untuk berbicara secara bijak dan memotivasi orang lain serta menunjuki kebenaran yang hakiki.
BAYYINAT – CLEAR SIGNS, TANDA – TANDA YANG JELAS!

Bayinat berasal dari akar kata baana yang artinya jelas, terang, ( transparant ) . maksudnya adalah bahwa ayat – ayat Allah adalah terang dan sangat jelas dapat dipantau oleh indera. Tidak ada satupun ayat Allah yang berada dititik abu – abu ( grey Spot ) yang tidak jelas dan tegas . hanya saja terkadang kita tidak memiliki kebersihan hati untuk menjadikan ayat – ayat Allah itu jelas dan tegas mudah untuk diterapkan oleh siapa saja.
Bal huwa ayyaatum bayyinatun fii shudurihim. Sesungguhnya ayat – ayat Allah itu jelas dan tegas berada di otak manusia. Di ibaratkan jelasnya ayat Allah itu adalah seperti manusia yang memandangi sesuatu dengan matanya, jelas terlihat warna, posisi dan letaknya. Matanya bisa melihat dengan jelas objek yang didepannya. Bila hitam, hitam ia, bila besar, besar ia terlihat. Artinya manusia mendapati ayat – ayat Allah sangat jelas dan gamblang mengerti ciri – ciri dan bentuknya, bukan sesuatu yang khayal. Seperti orang yang melihat objek didepannya dengan jelas tanpa terhalang apapun. Lengkap semua terlihat dengan segala fenomenanya.
Maka dalam hal ini, bayyinat berkaitan dengan mata. Jelas dan terang dalam melihat ayat – ayat Allah. Orang yang memiliki kemampuan bayyinat bisa memberikan petunjuk kepada orang lain seperti menunjukan seseorang buah apel yang jelas bentuk dan warna, sehingga orang tidak menduga – duga dan menerawang tentang apa yang dijelaskan.
FURQAN- judgement
Sering kita dengar bahwa furqan diartikan dengan berbeda, membedakan. Furqan berasal dari kata Faraqa yang berarti mengurai, membelah, membedakan, memisahkan. Adanya perbedaan – perbedaan bagi manusia adalah dalam rangka ia mudah untuk mengambil keputusan. Sehingga Allah menciptakan segala sesuatunya berbeda dengan fungsi dan peran yang berbeda – beda pula. Itulah kenapa ada beras, singkong, ubi dan jagung. Walau sama – sama bahan makanan pokok, tentu masing – masing memiliki perbedaan kandungan dan cara mengolahnya.
begitu juga ada wanita dan pria, malam dan siang, besar dan kecil, manis dan pahit, hitam dan putih, baik dan buruk dsb. Semua itu diciptakan berbeda – beda ( furqan ) agar manusia bisa membuat keputusan yang terbaik untuk dirinya. Hal untuk memutuskan keputusan berdasarkan pemikiran dan sebab akibat yang jelas itulah disebut dengan Judgement ( keputusan ). Sebuah keputusan tentu lah harus adil, adil adalah seimbang dan sesuai dengan ukurannya. Tentu tidak adil memutuskan bayi untuk makan singkong karena belum sesuai dengan ukurannya ( takarannya ). Maka rasa adil itu amat sangat berkaitan dengan keseimbangan. Allah sangat adil memutuskan bahwa laki – laki wajib shalat dalam keadaan apapun sementara wanita bisa libur ketika datang haid. Karena memang fungsi dan peran pria dan wanita berbeda.
Alat deteksi keseimbangan pada diri manusia adalah telinga. Secara zahir, telinga mengatur keseimbangan tubuh manusia. Bila telinga bermasalah, maka bermasalah pula keseimbangan diri kita.  Tapi secara bathin diri telinga sangat sensitif terhadap suatu keadaan ketidakseimbangan. Itulah kenapa kita waspada ketika mendengar orang marah – marah bahkan sebelum kita melihat ia membawa golok. Karena ketidakseimbangan jiwa terdengar lewat bicaranya. Dan telinga sangat sensitif terhadap hal itu. Bahkan telinga bisa membedakan ribuan suara jenis apapun juga, apakah dari binatang, manusia atau alam semesta. Sedemikian hebatnya telinga maka ia memang menjadi alat detektor Qur’an yang sangat hebat disebut dengan sami’na wa atho’na.
Kesimpulan,
Dari paparan atas, maka jelaslah sudah bahwa hudan, bayyinat dan furqan adalah sesuatu yang sangat berkaitan dengan diri manusia. Manusia bisa menunjuki sesuatu karena ia punya mulut. Ia memperjelas petunjuk itu dengan matanya ( Bayyinat ) dengan hudan ( petunjuk ) yang bayinat ( jelas ) maka ia bisa memutuskan, memilih dan memilah ( furqan ) yang mana yang bisa ia terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Contohnya adalah kita melihat sebuah ulat buah. Jelas sudah petunjuknya bahwa ia adalah ulat di buah jambu, berwarna putih . bila kemudian kita cek dia dengan mikroskop dan uji labotarium maka semakin jelas kita dapatkan bahwa ia berkaki 10, berlendir mengandung amtipolineria yang bisa mengobati kudis dan mati setelah 2 jam keluar dari jambu. Sehingga jelas dan ilmiah bagi kita untuk membedakan antara ulat jambu dan ulat mangga.
Ulat adalah hudan dengan segala bentuk dan warna, ketika di cek lebih mendalam dan diuraikan dengan maka itu adalah bayyinat, sedangkan ketika kita bisa membedakan antara ulat jambu dan mangga itulah furqannya. Hal ini sebenarnya sederhana asal diri kita mau kembali kepada Allah dengan baik. Semoga bermafaat. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar