Sabtu, 31 Agustus 2013
Hikmah ketiga. " HUKUM-LAW "
Hikmah
ke TIGA. " HUKUM-LAW ". "Hukum manusia dibatasi oleh waktu, dikuasai oleh
masa, dapat dbantah dengan keadaan.Bahkan dapat dikhianati oleh orang
yang membuat hukum tersebut. Tapi hukum Allah tak pernah lapuk dalam
waktu dan pudar dengan masa, juga tak akan pernah dapat dibantah oleh
siapapun karena hukum Allah merupakan kebenaran yang selalu beriringan
dengan hati nurani setiap manusia". Maka tegakkanlah hukum Allah jika
kita termasuk orng yang tunduk, tetapi tidaklah pantas yang mengaku
tunduk sedang diri dan hati jauh dari mengenal Allah sang pemilik Hukum.
Wallahu A'lam.
Hikmah kedua. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE
Hikmah
ke 2. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE. "Agar engkau Aku ingatkan ketika lupa,
maka carilah kesempatan untuk ingat kepada-Ku di saat engkau disibukkan
dengan yang lain, Karena sesungguhnya Aku tidak melupakan hambaku yang
pernah ingat kepada-Ku di waktu ia lalai mengingat diri-ku". Ingat
kepada Allah sebenarnya pekerjaan mudah, tapi kenapa kita lupa, ya
karena masih ada yang kita sangka lebih penting dari selain Allah.
Padahal yang kita sangka itu belum tentu mengingat kita. Wallhu A'lam.
hikmah pertama : knowledge
Hikmah
pertama. PENGETAHUAN-KNOWLEDGE. Dizaman ini telah banyak manusia yang
merusak matanya dengan kebutaan, bukan karena mereka orang bodoh dari
ilmu pengetahuan, namun mereka hanya orang-orang yang telah dibodohi
oleh ilmu pengetahuannya sendiri. Mereka menganggap dirinya dapat
mengupas ilmu pengetahuan didunia, padahal pengetahuan tentang dirinya
sendiri masih dalam kebutaan. Apakah mereka pantas dikatakan orang-
orang pintar ?!. Orang yang pintar adalah orang yang dapat menghalau
ilmu pengetahuan dunia kepada istana ilmu pengetahuan yang hakiki, yaitu
ALLAH SWT. Wallahu A'lam.
Kamis, 29 Agustus 2013
Remembrance
Hikmah
ke 2. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE. "Agar engkau Aku ingatkan ketika lupa,
maka carilah kesempatan untuk ingat kepada-Ku di saat engkau disibukkan
dengan yang lain, Karena sesungguhnya Aku tidak melupakan hambaku yang
pernah ingat kepada-Ku di waktu ia lalai mengingat diri-ku". Ingat
kepada Allah sebenarnya pekerjaan mudah, tapi kenapa kita lupa, ya
karena masih ada yang kita sangka lebih penting dari selain Allah.
Padahal yang kita sangka itu belum tentu mengingat kita. Wallhu A'lam.
PENGETAHUAN-KNOWLEDGE.
Hikmah
pertama. PENGETAHUAN-KNOWLEDGE. Dizaman ini telah banyak manusia yang
merusak matanya dengan kebutaan, bukan karena mereka orang bodoh dari
ilmu pengetahuan, namun mereka hanya orang-orang yang telah dibodohi
oleh ilmu pengetahuannya sendiri. Mereka menganggap dirinya dapat
mengupas ilmu pengetahuan didunia, padahal pengetahuan tentang dirinya
sendiri masih dalam kebutaan. Apakah mereka pantas dikatakan orang-
orang pintar ?!. Orang yang pintar adalah orang yang dapat menghalau
ilmu pengetahuan dunia kepada istana ilmu pengetahuan yang hakiki, yaitu
ALLAH SWT. Wallahu A'lam.
Rabu, 28 Agustus 2013
Al-Ummu madrosatun
Al-Ummu madrosatun atau ibu adalah sekolah. Alangkah luas maknanya.
Di pundak ibulah terletak tanggung jawab perkembangan ruhiyah (mental),
aqliyah (intelektual), dan jasadiyah (fisik) seorang anak terpikul.
Seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya dan rumah tangga suaminya.
Dan ia akan ditanya oleh Alloh atas kepemimpinannya itu. Sebagaimana
Rosululloh bersabda : “Setiap manusia keturunan adam itu adalah
pemimpin, maka seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya sedangkan
wanita adalah pemimpin rumah tangga”. (HR. Ibnu Sunni dari Abi
Hurairah).
Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang memakan waktu hampir 24
jam. Untuk itu menjadikan rumah tangga sebagai sebuah “kantor” yang
menyenangkan, dengan anak-anaknya sebagai ‘kolega’ sekaligus’ bawahan’,
kita harus senantiasa segar dan cerdas dalam me-manage mereka.
Akan tetapi sering terjadi, setelah menikah seorang akhwat muslimah
justru menurun kapasitasnya untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya.
Banyak faktor yang membuat muslimah demikian. Bisa jadi, kesibukan
mengatur rumah tangga demikian ‘hebatnya’ sehingga sang ibu lebih mirip
khodimat dari pada seorang yang menyimpan kecerdasan intelektual.
Menjadi ibu bagi anak-anak yang berkualitas mujahid dan mujahidah adalah
dambaan setiap muslimah.
Untuk mewujudkannya perlu usaha dan keyakinan kuat bahwa menjadi
seorang ibu lebih dari sebuah pekerjaan. Menjadi ibu dengan kualitas
‘madrasah’ adalah gaya hidup. Akan tetapi untuk masa sekarang ini sangat
disayangkan, keberadaan seorang ibu yang ber-’karir’ untuk mencetak
generasi mujahidin seakan kurang bermutu.
Banyak wanita yang memilih bekerja di luar rumah semata untuk meraup
lembaran uang, padahal seorang ibu memiliki peluang terbesar untuk
menumbuhkan ruhul jihad dalam dada anak-anaknya.
Pandangan yang keliru dari sikap orang tua yang memprioritaskan
pendidikan anak-anaknya semata untuk mencapai kehidupan duniawi telah
menjangkiti pikiran sebagian besar para orang tua. Orang tua sekarang
telah memacu anak-anaknya untuk mencari kesenangan dunia. Cita-cita yang
selalu dibangga-banggakan orang tua adalah anaknya menjadi dokter,
pengusaha, artis, model dan sebagainya. Sehingga anak-anaknya dimasukan
ke dalam dunia pendidikan bukan untuk mendapatkan ilmu melainkan untuk
meraih gelar yang mengantarkannya pada kedudukan tinggi dan harta
sebanyak-banyaknaya. Padahal Rosululloh bersabda : “Barang siapa mencari
Ilmu bukan karena Alloh atau ada yang dicari selain Alloh, maka tempat
duduknya di neraka,” (HR. Tirmidzi dan Abu daud).
Figur seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya untuk cinta Alloh,
Rasul dan jihad, idealnya dimiliki setiap ibu-ibu muslimah. Ciri percaya
diri tentu harus dimiliki oleh seorang ibu. Seorang ibu yang tidak
percaya diri dikhawatirkan melahirkan generasi peragu yang selalu
tergantung dan pesimistis. Berorientasi pada tugas dan hasil akan
membuat seorang ibu memiliki target-target tertentu yang harus dicapai
dalam tugasnya. Tanpa sebuah target, pekerjaan apapun menjadi tidak
terarah dan tidak efesien. Target prestasi puncak seorang ibu adalah
manakala berhasil mengantarkan anak-anaknya meraih syahadah.
Laba seorang ibu adalah ridho Alloh dan ridho suaminya. Orientasi
terhadap ridho Alloh dan suami membuahkan keikhlasan dalam niat dan
amal. Seorang ibu adalah pengambil risiko yang baik. Dalam mengelola
rumah tangga seorang ibu tidak akan pernah berhenti dihadapkan pada
pelbagai tantangan. Kemampuan mengambil risiko dan mencintai tantangan
akan membuahkan ‘azam yang kuat untuk mengatasi masalah. Seorang ibu
adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Maka, menempatkan diri sebagai
seorang pemimpin menjadi sikap mutlak seorang ibu. Sebagai seorang
pemimpin bagi anak-anaknya, kewibawaan dan teladan dari ibu sangat
diperlukan, karena anak belum mengenal dirinya dengan baik. Namun
demikian, seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang tidak kebal
kritik. Menjadikan anak-anak sebagai teman dialog, diskusi akan membuat
mereka merasa dihargai. Maka bersikap terbuka terhadap kritik dan saran
dari anak-anak kita bila beranjak dewasa akan membantu mereka menemukan
jatidirinya.
Mendidik anak membutuhkan kiat-kiat yang inovatif dan kreatif. Hal
ini hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu yang selalu menambah
wawasannya. Disamping itu seorang ibu pun dituntut fleksibel. Ia tahu
kapan harus berperan sebagai pemimpin, sahabat, atau seorang guru di
hadapan anak-anaknya. Masukilah dunia anak-anak dengan perasaan gembira,
berbicara tentang kesenangan mereka, melibatkan diri sepenuhnya
terhadap problem-problem mereka.
Seorang ibu adalah wanita mulia, yang harus senantiasa menyadari
tugasnya. Menikmati prestasi menjadi “ummi madrosatun” akan membuat
seorang ibu berdedikasi total terhadap tugasnya, dan hal ini tidaklah
mudah. Untuk itu membutuhkan keikhlasan, ketekunan, kerja keras, rasa
cinta dan do’a.
Jadi, jadi sekolah untuk anak-anak? Itulah fungsi seorang ibu.
Renungan"RABU"=Ridha Allah Bersama Ummi-Bunda".
Renungan"RABU"=Ridha
Allah Bersama Ummi-Bunda". Betapa besar dan agung jasa ummi kepada
kami. Melalui diri Ummi, kami diciptakan Allah. Tanpa Ummi yang
melahirkan, kami tidak pernah ada dipentas bumi ini. 9 bulan plus 10
hari kami dalam kandungan Ummi sampai kami dilahirkan, kemudian disusui
selama 2 tahun tanpa pamrih, tampa lelah, tanpa keluh, yang ada hanya
cinta, perhatian dan kasih sayang. Ummi
yang memelihara, membesarkan, mendidik, menyekolahkan kami sampai
dewasa, bahkan sampai menikahkan kami. Oooh Ummi, dengan apa kami dapat
membalas jasamu yang sangat mulia ini???. Kami tau tidak ada lagi nilai
yang dapat membalas jasa Ummi, meskipun kini kami sudah jadi presiden,
menteri, gubenur, bupati, camat, lurah. Meskipun kami saat ini sudah
jadi guru, polisi, jaksa, hakim, pengacara. Ustaz, ulama, kyai. Meskipun
sekarang kami sudah Sarjana, Doktor dan Profesor. Tapi semua ini kami
bukan apa-apa dan siapa-siapa dimata Allah tanpa ridho Ummi kepada kami.
Yaa Ummi, kedudukanmu, derajatmu sungguh amat sangat terhormat dan
mulia disi Allah Swt. Ridha Allah disandangkan kepada diri Ummi,
demikian juga murkaNya. Begitu sabda rasul kita Muhammad Saw. Saudaraku,
hati-hatilah jangan pernah meyakiti hati Ummi kita, jangan pernah
berkata ah, ih, uh, karena itu bisa menjadi bencana bagi kita. Mohonlah
ampun dan maaf, mohonlah ridha Ummi kita, Insya Allah, Allah akan
meridhai kita. Ya Allah ampuni kami, dan kedua orang tua kami,
sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi dan memeihara
kami diwaktu kecil kami. Aaamiiin. Wallahu A'lam.
"Renungan Syawal"
"Renungan
Syawal" perihatin dengan berbagai persoalan umat yg tak kunjung menjadi
baik. pertikaian, permusuhan, pembunuhan terjadi terus menerus tanpa
Haq. Ternyata akar masalahnya adalah karena manusia menuhankan hawa
nafsunya, bukan bertuhan kepada Allah Swt. Kesalahan terbesar manusia,
karena merasa "memiliki" kuasa, ilmu, harta dan keluarga, padahal
sejatinya pemilik yg sebenarnya adalah Allah
Swt. Akibatnya manusia diperbudak oleh apa saja yg dimilikinya.
Lihatlah contoh pelakunya, fir' awn, Qarun, Haman dan Samiry
berkolaborasi menentang kebenaran yang dibawa oleh nabi Musa.as. Seluruh
pemimpin dunia saat ini mencerminkan proto tipe FQHS itu. Syawal
mengajak kita semua kembali memperbaharui keimanan kita, dengan tidak
"merasa memiliki" kecuali hanya memilik Allah saja. Siapa yg merasa
memiliki berarti mendustai dirinya sendiri dan jiwanya pasti tidak
tenang karena takut kehilangan segalanya. Yang benar "Takutlah
kehilangan Iman yg benar; Takutlah kehilangan Allah Swt" . Wallahu a'lam
bishshawab.
"KAMIS"= Kami Islam"
Renungan"KAMIS"=
Kami Islam". Sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidup dan matiku Lillahi
Rabbil'alamiin. Beginilah ikrar setiap muslim dalam kesehariannya, tidak
ada celah sedikitpun keluar dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
Pasrah total kepada Allah dengan segala kehendakNya. Hidupnya Lillah,
Fillah, Ma'allah, Ilallah, Ridhollah. Begitulah hendaknya segala piranti
diri berupa indra, otak dan hati menyesuaikan diri dengan kehendak
Allah, jangan membantah, membangkang, ingkar dan munafik. Katakan saja
kepada Allah dengan tulus " Sami'na wa atha' na. Hidupmu akan bahagia
disini dan disana. "Udkhuluu fissilmi kaaffah"
JUM'AT : jika umat bersatu.
Renunga
"JUM'AT"=Jika Umat Bersatu. Kekuatan umat Islam ada pada persatuan dan
persudaraannya. Persatuan dan persaudaraan itu nampak ketika sedang
melaksanakan shalat Jum'at. Ketika itu tidak tanpak perbedaan golongan
antar umat, yang ada hanya Umat Islam bersatu, bersaudara dan berjamaah
menghadap beribadah kepada Allah Yang Satu. Diluar masjid umat hendaknya
bersatu, bersaudara, berjamaah menghadapi
musuh yang mengganggu dan memusuhinya berupa kemungkaran dan maksiat
kepada Allah.Tapi tahukah kita bahwa musuh utama bagi setiap pribadi,
yang harus dilawan, dikendalikan adalah sifat kesombongan, kebencian,
kedengkian, keserakahan, dan kebakhilan kepada sesama Umat. Sifat ini
menyatu dalam diri yang berada dibalik hawa nafsu ammarah. Sifat2 inilah
yg menjadi sebab perpecahan, pertikaian diantara umat sampai saat ini.
Bisakah sifat itu sirna dalam diri kita dan berganti dengan sifat cinta,
kasih sayang, tolong menolong dalam kebajikan??? wallahu a'lam, kembali
pada kesadaran kita dalam memaknai pentingnya persatuan, persaudaraan
dan berjamaah lebih penting dari perpecahan dan pertikaian umat. Bersatu
kita teguh bercerai kita runtuh. Wassalam.
SABTU : sabar terhadap ujian.
Renungan
"SABTU"= Sabar Terhadap Ujian. Dalam keseharian hidup kita, suatu saat
merasa bahagia, dan pada saat yang lain merasa susah atau sedih. Tidak
ada orang yg bahagia terus atau bersedih terus sepanjang usianya.
Begitulah sunnatullah yang harus dijalani oleh semua makhluk hidup.
Kalau begitu hidup ini ujian hidup antara bahagia dan susah. Ada yg kaya
ada yg miskin, ada yg pintar ada yg bodoh,
ada yg sehat ada yg sakit. Untuk apa semua itu ada? Oh ternyata hanya
ujian belaka, untuk mengetahui dan diketahui siapa yg lulus naik kelas
dan siapa pula yg mogok kelas. Allah tidak memandang kayamu-miskinmu,
sehat- sakitmu, pintar- bodohmu, tapi Allah melihat dan menilai
bagaimana keadaan hatimu ketika diuji dengan itu semua. Ridho, sabar,
syukur, atau putus asa ataukah ingkar dan sombong ???. Terserah kita mau
pilih hidup yang mana, toh yang merasakan akibatnya kita sendiri bukan
yang memberi ujian yaitu Allah Swt. Tapi tahukah kita bahwa Allah selalu
menghendaki kita bahagia selama kita taat, nurut pada kehendakNya.
Solusinya adalah DUIT= Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal. Wallahu A'lam.
Renungan"AHAD"= Al Qur'an-Hadits Diamalkan".
Renungan"AHAD"=
Al Qur'an-Hadits Diamalkan". Alqur'an kitab suci semesta, menjadi "RUH"
alam semesta. Alam ini masih hidup dan aktif bergerak memberi kehidupan
karena "Ruh" nya masih ada, yaitu Alqur'an. Suatu saat nanti alqur'an
akan lenyap diangkat oleh Allah karena tidak ada lagi yang membaca dan
mengamalkan kandungannya maka dunia ini akan kiamat, berpindah ke alam
akhirat. Sungguh besar peran bagi para
pengajar, pelajar, pecinta alQur'an, mereka itu adalah "Hamilul Qur'an
keluarga Allah" yaitu para Qari dan Hafidz alqur'an, para ulama pewaris
anbiya', para ustaz/ah, para guru dan santri pondok pesanteren alQur'an.
Karena mereka itulah yang dipandang oleh Allah sehingga bumi ini masih
ada sampai saat ini. Siapa yang menyakitinya maka Allah murka kepadanya,
begitu sabda Nabi kita Muhammad Saw. Al-Hadits adalah segala sesuatu yg
bersumber dari nabi Muhammad saw berupa ucapan dan perbuatan serta
persetujuan Nabi, sebagai aplikasi terapan dari alqur'an dan menjadi
teladan hidup bagi seluruh manusia. Rasulullah Saw, meninggalkan umatnya
dua hal yang jika umat berpegang teguh kepadanya niscaya tidak akan
tersesat, itulah alQur' an dan Sunnah Rasul. Semoga kita tidak termasuk
orang yang dikeluhkan Rasulullah karena melalaikan dan melecehkan
alQur'an. "Mahjuuraa". Wallahu A'lam.
Renungan "SENIN"= Senyum itu Indah".
Renungan
"SENIN"= Senyum itu Indah". Berbahagialah kita kalau dalam keseharian
kita dapat tersenyum setiap saat, sementara saudara-saudara kita
dibelahan dunia lain susah tersenyum karena sedang dilanda perang
saudara dalam negerinya, Afganistan, Irak, Suria, Mesir, Rohingya
Thailan, dan orang yang sedang dalam penjara dan rumah sakit. Semoga
masalahnya cepat selesai supaya bisa kembali tersenyum didepan
keluarga dan saudaranya. Dalam dunia medis disebutkan bahwa untuk
tersenyum dibutuhkan 26 Otot wajah, sedangkan cemberut menggerakkan 62
otot wajah, itu sebabnya para ahli kesehatan mengatakan bahwa dengan
banyak tersenyum wajah kelihatan muda, sedang wajah cemberut kalihatan
lebih tua. Tersenyum itu sehat, tersenyum itu indah, tersenyum itu
damai, tersenyum itu bahagia lahir batin. Benarlah sabda Rasulullah Saw "
Senyummu pada saudaramu adalah Sedekah". Tentu saja maksudnya senyum
yang lahir dari hati yang tulus, jujur dan benar. Tidak semua senyum
bernilai sedekah bergantung niatnya, karena ada senyum politikus, ada
senyum diplomatik, ada senyum selebriti, ada senyum hipokrit, semua itu
disebut senyum jebakan bermaksud ada udang dibalik batu. Kalau kita
termasuk senyum yang seperti apa? Hanya hati kita sendirilah yang
mengetahinya. Saudaraku tersenyumlah dengan memperhatikan situasi dan
kondisi, kapan saat yang tepat untuk tersenyum supaya tidak menimbulkan
fitnah. Tersenyumlah anda sehat jiwa dan raga, lahir batin. Wallahu
A'lam.
Renungan "SELASA"= Selalu Bersama Allah".
Renungan
"SELASA"= Selalu Bersama Allah". "Dia bersama kamu dimana saja kamu
berada". Kalam ini sangat populer dikalangan "Sufi" mereka memahami
sebagai "Ma'rifatullah" yang sangat tinggi. Sebenarnya setiap orang
beriman harusnya berusaha dengan sungguh-sungguh dengan segala daya dan
upaya untuk dapat merasakan kebersamaaan dengan Allah Swt. Karena hanya
dengan itu kita dapat meningkatkan kualitas
ketaatan dan pengabdian kita kepda Allah, serta dapat meninggalkan
segala yang diharamkan Nya, sehingga seluruh aktifitas kita selalu
sesuai, sejalan dan selaras dengan kehendak Allah Swt. Mengapa manusia
berani berbuat kejahatan, membunuh, perkosa, selingkuh, korupsi, kolusi,
nepotisme, gratifikasi uang dan sex, benci, dendam dan sebagainya? Ya,
karena tidak merasakan kebersamaan dengan Allah Swt. Seolah Allah itu
jauh, tidak melihat, tidak mendengar, tidak mengetahui, padahal Allah
lebih dekat dari urat leher kita dan kemana saja kita berpaling disitu
ada wajah Allah. Allah tidak ngantuk apalagi tidur. Tanpa Allah mana
mungkin semua ini ada. Tapi semua itu haruslah dipahami dengan pemahaman
yang benar. Dan sebaliknya bagi orang yang telah merasakan
kebersamaanya dengan Allah Swt, tidak berani berbuat salah apalagi dosa,
mereka itulah yg disebut alQur'an sebagai Muttaqiin, Shabiriin dan
Muhsiniin. Ya Allah bimbinglah kami, bersihkan hati kami, jernihkan
fikiran kami, luruskan ucapan kami, baguskan perbuatan kami, supaya kami
dapat merasakan nikmatnya ber Iman dan ber Islam. Wallahu A'lam.
Jumat, 23 Agustus 2013
Kecintaan Mu'adz bin Jabal ra pada Rasulullah SAW.
Dikisahkan
dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahwa Mu'adz bin Jabal ra
telah berkata: "Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk
memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana. Pada
satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang, kemudian
orang itu berkata kepadaku: "Apakah anda masih tidur juga wahai Mu'adz,
padahal Rasulullah SAW telah berada di dalam tanah." Mu'adz terbangun
dari tidur dengan rasa takut, lalu ia mengucapkan: "A'uzubillahi minasy
syaitannir rajim?" Setelah itu ia lalu mengerjakan solat. Pada malam
seterusnya, ia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama. Mu'adz
berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan?" Kemudian ia memekik
sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman.
Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'adz berkata kepada mereka: "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu'adz menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?" (Az-Zumar: 30).
Maka menjeritlah Mu'adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sadar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144)
Maka Mu'adz pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad?" Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: "Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala." Kemudian ia berkata: "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?" Lalu iapun pergi meninggalkan mereka.
Di saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Lalu Mu'adz mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'adz bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai Mu'adz, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu'adz terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil Mu'adz: Wahai Mu'adz sadarlah dan bangunlah." Ketika Mu'adz sadar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddik, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu'adz melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah.
Mu'adz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'adz menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri lagi. Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia adalah Mu'adz yang sedang pingsan. Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu'adz, lalu ia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'adz, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: "Sampaikanlah salamku kepada Mu'adz." Maka Mu'adz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah ra."
Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu'adz mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu'adz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahli bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata,
"Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW."
Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Mu'adz?" Fatimah rha lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah salam saya kepada Mu'adz dan khabarkan kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Mu'adz bin Jabal keluar dari rumah Fatimah ha menuju ke arah kubur Rasulullah SAW.
Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'adz berkata kepada mereka: "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu'adz menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud:
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?" (Az-Zumar: 30).
Maka menjeritlah Mu'adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sadar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144)
Maka Mu'adz pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad?" Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: "Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala." Kemudian ia berkata: "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?" Lalu iapun pergi meninggalkan mereka.
Di saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Lalu Mu'adz mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'adz bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai Mu'adz, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu'adz terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil Mu'adz: Wahai Mu'adz sadarlah dan bangunlah." Ketika Mu'adz sadar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddik, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu'adz melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah.
Mu'adz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'adz menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri lagi. Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia adalah Mu'adz yang sedang pingsan. Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu'adz, lalu ia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'adz, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: "Sampaikanlah salamku kepada Mu'adz." Maka Mu'adz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah ra."
Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu'adz mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu'adz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahli bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata,
"Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW."
Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Mu'adz?" Fatimah rha lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah salam saya kepada Mu'adz dan khabarkan kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Mu'adz bin Jabal keluar dari rumah Fatimah ha menuju ke arah kubur Rasulullah SAW.
wanita pejuang
Ketika mendengar suaminya
menjadi khafilah baru, Fatimah sangat terkejut. Namun ia lebih terkejut
ketika tahu kalau suaminya itu dikabarkan menolak segala fasilitas
istana.
Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.
Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?
Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.
Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, “Fatimah, isteriku…! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.”
“Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?” tanya Fatimah.
“Fatimah…! Engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab Umar bin Abdul Aziz.
Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku…apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”
“Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku,” jawab
Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.
Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?
Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.
Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, “Fatimah, isteriku…! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.”
“Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?” tanya Fatimah.
“Fatimah…! Engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab Umar bin Abdul Aziz.
Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku…apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”
“Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku,” jawab
Aneh. Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya ia. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan. Justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan, “Suamiku…! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.”
Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan sosok yang relegius dan sangat amanah.
Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi bakti dan keridaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat.
Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu.
Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang dalam kondisi rusak.
Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, “Ya Sayyidati…, mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?” Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.
Sabtu, 10 Agustus 2013
lihat diri anda.......
sebab banyak pelajaran dari diri sendiri.
Kita lahir dengan dua mata didepan wajah kita, mengajarkan kepada
kita untuk selalu optimis dengan masa depan, dan tidak pernah terfokus pada
masa lalu, bukankah kita hidup untuk kedapan, tidak mungkin waktu akan berjalan
kebelakang. Namun janganlah lupa dengan masa lalu dimana mungkin ada masa kita
gagal dan tidak berhasil dalam suatu tujuan, jadikanlah kegagalan sebagai bahan
pelajaran agar kita mampu untuk bangkit dan berkata aku BISA……………….., dan aku
tidak mau berhenti dalam rasa penyesalan yang telah terjadi di waktu dulu. Lalu
sudahkah kita bersyukur pelajaran yang diberikan Allah lewat mata kita.
Kita dilahirkan dengan 2 telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Mendengarkan dari dalam diri dan dari luar diri,
disaat ada tamu yang tidak diundang datang dalam bentuk kegelisahan dan kegalauan
(ciyee…ciyee, yang lagi galau…….hihiiihiihi….) maka sudah sepantasnyalah diri
kita mendengar berita dari dalam diri yaitu bahasa kalbu (sebab banyak dalam diantara manusia menghiananti bahasa kalbu yang hanya ingin kebenaran) dan dari luar diri
berupa nasehat-nasehat yang baik, dan bisa jadi lewat media yang benar, seperti
Al Qur’an dan nasehat teman yang memang berkompenten dalam bidangnya, jangan
jadikan diri ini hanya mau didengar sementara tidak mau mendengar, maka rusak
diri jika hal ini dilakukan.
Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, sehina
apapun kita dimata manusia lainnya kita tetap kaya dan kita akan tetap mulia.
Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. sebab apa
yang anda fikirkan didalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan. Bukankah pikiran dan idea adalah
harta terbesar dalam diri manusia lalu mengapa kita bersedih dengan orang
disekitar kita yang mungkin selalu mencemooh atau menghina kita, barangkali
kita dimata manusia hina dan miskin, belum tentu kita hina dan miskin dimata
Allah,
Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa
menggoda, antara kita dan orang lain disekitar kita dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga lebih
baik sedikit bicara namun bermanfaat dari pada bicara tapi tidak ada gunanya
alias sampahhhhhhhhhhhh, namun perbanyaklah melihat dan mendengar sebab manusia yang benar
selalu melihat hikmah dari berita, atau kejadian yang menimpanya dan yang
berada disekelilinya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada pemberian
apapun bentuknya yang
tentunya bernilai dimata Allah yang satu, dan pemberian itu diharapkan berasal dari hati kita yang paling
dalam. Belajar untuk mmberikan dan jangan mengharapkan
imbalan, give the best take the risk, jangan pernah berharap kepada siapapun
ketika kita memberi dapat dibalas sesuai dengan apa yang kita beri.
Belajar untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain dan menikmati apa yang telah
kita beri karena kita faham betapa kita sangat rela dan mencari siapa saja yang
mau menerima apa yang kita berikan, tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk memberi, seperti apa yang telah kita berikan kepadanya. Berilah
yang terbaik kepada orang lain dan jangan mengharapkan imbalan, sebab kita
ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu maka kita akan menemui dan mendapatkan
pemberian yang lebih indah nantinya.
Jumat, 09 Agustus 2013
makna bulan syawal.
Bulan Syawal, Bulan ini dalam penanggalan atau Kalender Hijriah islam,
adalah bulan ke-10. Arti kata syawal adalah naik, ringan, atau membawa
(mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan
hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu
meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. Selain
itu, biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta
mengandung atau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini.
Karenanya, orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak
baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial.
Kepercayaan ini dihapus oleh islam dengan peristiwa pernikahan Nabi
Muhammad saw.
bulan syawal juga berada setelah bulan ramadhan dimana bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat serta idkuminannar, dimana khususnya umat muslim digembleng langsung oleh Allah, nah dari arti kata diatas saja kalaulah kita memang ingin mendapatkan petunjuk dari Allah maka bukanlah suatu kebetulan semata. bulan ini juga terkenal dengan hari dimana kita meraih kemenangan setelah melaksanakan pertempuran melawan jin, syetan, iblis yang ingin menggoda manusia, dan dibulan ini pula konon katanya manusia menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan.
syawal dalam arti kata.
NAIK. RINGAN, MEMBAWA (mengandung), berbicara kata naik maka pikiran kita akan berasumsi dari tempat rendah ketempat yang tinggi artinya ada step-step atau bagian yang harus kita lewati dan kita tinggalkan, tidak akan mungkin kita naik tanpa melewati yang rendah terlebih dahulu, nah inilah yang Allah maksudkan setelah manusia dididik dalam bulan ramadhan Allah menginginkan manusia yang telah mencicipi institusi ilahi dibulan ramadhan tersebut naik tingkat atau derajat dimataNYA, dengan cara terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. dibulan ramadhan manusia diajarkan untuk meningkatkan shalat dimalam hari, maka setelah keluar dibulan ramadhan seharusnya tingkat shalatnya terus dinaikkan, akan tetapi jika dibulan ramadhan shalat malam mampu dilaksanakan, setelah keluar dari ramadhan shalat malam semakin malas alias berat dan tidak ada kekuatan dengan berbagai alasan, bisa dipastikan derajat manusia tersebut masih stagnasi dan bisa dikatakan gagal di bulan ramadhan. ramadhan juga mengajarkan agar manusia mampu untuk menahan lapar dan dahaga, bukankah lapar dan dahaga adalah lambang dari kebutuhan perut manusia, maka bukti dari keberhasilan tersebut sikapnya terhadap dunia ini tidak terlalu dominan, tidak terlalu menggebu-gebu dengan kehidupan dunia yang melenakan, semua tahu bahwasanya dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, kalaulah persinggahan maka pasti suatu saat kita sebagai manusia akan pergi meninggalkan persinggahannya dan menuju kepada tujuan yang benar yaitu akhirat,(mati), ramadhan juga mengajarkan kita untuk bisa mengontrol emosi atau amarah manusia, bukti dari keberhasilan dibulan ramadhan adalah setelah keluar dari bulan ramadhan sikap sabarnya terus dinaikkan atau ditingkatkan, ramadhan adalah bulan turunnya Al Qur'an dimana pada malam-malam dibulan ramadhan banyak diantara kita yang melakukan tadarusan dimasjid-masjid, atau langgar-langgar, seharusnya setelah keluar dari bulan ramadhan kegiatan tersebut terus ditingkatkan dan dinaikkan. ramadhan juga mengajarkan dimana kita harus memberikan sebagian harta yang kita miliki yaitu lewat zakat fitrah, manusia yang berhasil dan naik tingkat derajatnya dimata Allah maka manusia tersebut selalu memiliki sifat suka menolong dan suka memberi alias tidak bakhil dengan harta yang dimilikinya. bukankah harta yang kita miliki atau yang kita dapatkan adalah pemberian dari Allah juga,, lantas mengapa manusia harus bakhil dengan harta yang diberikan Allah.
RINGAN.
sebuah kata yang memberikan sebuah pemahan tentang syawal, ringan adalah lawan dari kata berat, dibulan ramadhan manusia mampu untuk meringankan langkah dalam bentuk ketaqwaan dan membuktikan keimannya kepada Allah, dengan berbagai cara, meringkan langkah dalam beribadah kepada Allah untuk menuju masjid agar mampu melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, meringankan tangan dalam urusan tolong menolong, meringkankan perut agar mampu menahan lapar dan dahaga, meringankan diri agar mampu untuk membaca Al Qur'an pada waktu-waktu tertentu, setelah keluar dari ramadhan masihkah kita mampu untuk meringkankan langkah, tangan hingga perut kita dalam mencari ridhanya, jika keringan tersebut mampu dilaksanakan maka sudah sepantasnyalah kita menyandang predikat manusia pemenang, menang melawan setiap godaan yang datang kepada kita manusia.
MEMBAWA.
apa yang dibawa, sebenarnya kalaulah kita teliti institusi ilahi pada buan ramadhan yang telah lewat mengajarkan kita beberapa konsep yang mesti kita bawa.
1. bulan ramadhan adalah bulan turunya Al Qur'an, setelah keluar dari ramadhan sudah sepatutnya dan wajib bagi manusia yang bertaqwa membawa konsep Qur'an dimanapun kita berada, bagaimana caranya membawa konsep tersebut, jalannya adalah terus belajar dan membaca Qur'annya setiap hari,
2. shalat, perhatikan bulan ramadhan yang telah lalu, bukankah bulan ramadhan mengajarkan konsep untuk meningkatkan shalat kita, maka manusia yang berhasil pada bulan ramadhan adalah manusia yang selalu menjga dan terus meningkatkan kualitas shalatnya.
3. infaq, ramadhan juga mengajarkan kita untuk suka menolong dan suka memberi kepada manusia lainnya,
tiga konsep inilah yang dapat ditingkatkan, diringankan untuk dilaksanakan dan dibawa sampai sebelas bulan berikutnya, agar kita mendapatkan penghargaan yaitu manusia yang kembali fitrah, dan manusia pemenang, tiga hal ini dilaksanakan maka manusia tersebut tidak akan pernah merugi, tidak akan pernah. hingga maut menjemput kita. dan hal ini dikatakan dalam surah fatir (35) ayat 29.
29. Sesungguhnya orang-orang yang
selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian
dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
nb : surah fatir juga berarti fitrah jadi sangat keterkaitan erat dengan konsep syawal yaitu kembali fitrah.
ciri manusia binasa yang mengatkan Al Qur'an dongeng2 terdahulu.
Ashatirulawwaalin.
Al-Qur’an merupakan
satu-satunya media Allah yang diberikan kepada manusia untuk menjawab segala
macam hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan yang dialami manusia itu
sendiri. Memasuki tahap demi tahap lintasan ayat perayat di dalam Al-Qur’an,
ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami maknanya sebagai pola
kecerdasan untuk dekat kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an banyak
sekali terdapat sandi-sandi rahasia, yang semuanya berisi penuh dengan wawasan
dan pengetahuan sekaligus ada pola bertindak yang benar dari setiap ayat “KITABULLAH”
itu. Segala macam pernak-perniknya sangat rinci Allah jelaskan sebagai bahan
untuk berperilaku yang pantas sebagai manusia terhadap kehendak Allah.
Salah satu sandi yang menarik
untuk dibahas dan dipelajari dari Al-Qur’an sekarang adalah tentang “ASATHIIRUL
AWWALIN” atau “DONGENGAN PURBAKALA”. Karena banyak manusia yang
sedikit asing dan saru tentang pemahaman “Dongeng Orang Terdahulu” ini, bahkan
ayat-ayat yang menjelaskan tentang makna “Asathirul Awwalin” begitu sulit
dipahami dan jarang diteliti, sebab dianggap ayat-ayatnya atau “Asathirul
Awwalin” hanyalah informasi yang berlaku kepada orang-orang terdahulu saja.
Mari perhatikan
TAHAP PERTAMA
Awalnya orang-orang dahulu
mati-matian bekerja keras dan berjuang susah payah mengarungi bahtera kehidupan
untuk mempertahankan populasi dirinya sebagai umat manusia. Dalam keadaan
kerasnya perjuangan itu, semua orang dengan berbagai cara melakukan tindakan
untuk mempertahankan diri dan hidupnya serta mempertahankan apa yang
dimilikinya.
Pada saat itu, cara orang-orang
mempertahankan hidup sangat unik dan menarik. Karena cara yang dipakai bukan
dengan kekerasan, bukan dengan perang, juga bukan dengan berbunuh-bunuhan. Tapi
orang-orang pada waktu itu mempertahankan diri dengan “BICARA” nya.
Alias siapa yang paling pandai berbicara, ahli motivasi dan ahli komunakasi.
Maka dialah yang akan menjadi penguasa sekaligus bisa bertahan hidup.
Jadi dari bicaranya,
orang-orang pada waktu itu mampu memberikan kekuatan tersendiri untuk menarik
hati siapa saja dalam rangka untuk mengumpulkan kepercayaan orang lain terhadap
dirinya. Dan dari sinilah muncul adanya perang antar pengaruh. Sehingga yang
paling kuat bicaranya untuk mempengaruhi orang lain maka semakin berkuasalah
dirinya dan semakin terjagalah hidupnya. Bahkan dari sini pula lahirnya ahli
penyair-penyair dunia yang begitu luar biasa hebat dan berpengaruhnya perkataan
seseorang untuk menarik jiwa siapa saja dibawah kendalinya. Dengan kemampuan
berkata-kata inilah asal muasal hidupnya “Sang ASATHIIRUL AWWALIN”.
Yaitu orang-orang yang senantiasa dengan perkataannya itu dalam rangka mengejek
orang lain.
TAHAP KEDUA
Sejak saat itu berkembanglah “Asathiirul Awwalin” yang sejak
dahulu sampai sekarang berkembang menjadi sikap dan tindakan hidup sebagian
banyak manusia. Sehingga menciptakan orang-orang yang begitu hebat perkataannya
dan suka mengolok-olok orang lain yang benar karena dianggap hanya merekalah
yang hebat. Bahkan di zaman rasulullah saja orang-orang “Asathiirul Awwalin”
ini begitu pesat berkembang.
Ketika Rasulullah ada sebagai utusan Allah untuk membawakan
ajaran yang benar kepada mereka semua, yang membawa ketauhidan yang sempurna
dengan Al-Qur’an untuk bertuhankan kepada Allah semata, orang-orang pada waktu
itu membantahnya dan mengolok-olok rasulullah dengan perkataan yang sifatnya
mengejek padahal kebenaran itu nyata, menunjukkan betapa merasa hebatnya
orang-orang “Asathirul Awwalin” itu daripada orang lain.
Di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan di surah An-Nahl(16) ayat
24 – 29 :
24.
dan apabila dikatakan kepada mereka "Apakah yang telah diturunkan
Tuhanmu?" mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang
dahulu",
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada
manusia yang dibawa oleh Rasulullah sebagai media untuk petunjuk hidup. Namun
ketika itu saat Al-Qur’an itu nyata dan benar adanya sebagai kebenaran dari
Allah, orang-orang pada waktu itu menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng saja,
bahkan Rasulullah dianggap sebagai tukang sihir dan sebagainya.
Orang-orang pada waktu itu
melontarkan perkataan yang menyulitkan diri mereka sendiri, menghina, mencaci,
menganggap remeh dan banyak urusan, tapi tidak mau menerima kebenaran. itulah
yang namanya “ASATHIRUUL AWWALIN”.
Bahkan Al-Qur’an saja dianggap sebagai buku dongeng bukan
sebagai petunjuk Allah, maka sudah barang tentulah siapa saja orang yang
mengolok-olok Allah dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan, bertindaknya
mengabaikan Al-Qur’an dan sulit mendengarkan orang lain, maka dia termasuk
dalam golongan orang-orang “Asathirul Awwalin”.
Kemudian selanjutnya di surah 16 : 25 – 29
25.
(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya
pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang
tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, Amat buruklah
dosa yang mereka pikul itu.
26.
Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah Mengadakan makar, Maka Allah
menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh
menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang
tidak mereka sadari.
27.
kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di
manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi
mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" berkatalah orang-orang yang
telah diberi ilmu: "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan
atas orang-orang yang kafir",
28.
(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat
zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);
"Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun".
(Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
telah kamu kerjakan".
29.
Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat
buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.
Nah pada ayat 25 di atas Allah
tegas menjelaskan bahwa perkataan orang-orang “Asathirul Awwalin” menyebabkan
mereka menanggung beban dan dosa yang memberatkan diri mereka sendiri, dan
membuat mereka jadi sesat.
Jadi contoh sederhana misalnya ada
orang mengatakan “AYOLAH BERTAUBAT KEPADA ALLAH, PELAJARILAH
AL-QUR’AN”, maka orang yang Asathirul Awwalin mengatakan “NANTI
SAJA, UMURKU MASIH MUDA, NANTI SAJA SETELAH TUA BARU BELAJAR, AL-QUR’AN KAN
UNTUK ORANG TUA SAJA, DAN UNTUK ORANG YANG AHLI BAHASA ARAB SAJA, AKU KAN ORANG
AWAM YANG TIDAK TAHU APA-APA”.
Maka ketahuilah sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan hal itu sungguh akan menerima beban dan memikul
dosa yang berat kelak dihadapan Allah, karena perkataan yang dilontarkannya
bermain-main terhadap peringatan Allah, alias dirinya sudah termasuk dalam
bagian orang-orang “ASATHIRUL AWWALIN”.
Pada ayat selanjutnya semakin berat
ancaman Allah kepada orang-orang ASATHIRUL AWWALIN ini, Allah akan
membinasakannya, dan mencemooh serta menhinakannya, dirinya akan hancur, bahkan
malaikat pun akan mencabut dengan keras nyawanya diambang kematian, dan lebih
mengerikan lagi neraka jahannam sebagai tempat tinggalnya yang abadi.
Naudzu Billahi Min Dzaalik.
Karena itu perhatikan benar
perkataan yang akan diucapkan baik kepada diri maupun kepada orang lain,
terlebih lagi perkataan terhadap ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), jika perkataan
yang keluar adalah dalam rangka mengolok-olok dan bermain-main serta membuat
sulit diri sendiri untuk membahas sesuatu tetapi diri ini tidak mau melakukan
yang benar, maka termasuklah diri ini sebagai makhluk ASATHIRUL AWWALIN itu.
Sebagaimana di zaman nabi MUSA as,
ketika kaumnya disuruh menyembelih sapi betina, kaumnya malah bertanya hal-hal
yang tidak perlu dipertanyakan, karena apa yang diperintahkan Allah kepada Musa
terhadap kaumnya adalah perintah Allah yang harus dilakukan, namun karena
kaumnya melakukan sesuatu, banyak bertanya dan sebagainya dalam rangka membuat
sulit mereka sendiri, sebab untuk diperintahkan menyembelih sapi betina saja
harus ditanya warnanya apa, kulitnya bagaimana dan sebagainya, namun akhirnya
mereka tidak melakukannya, itulah prototipe contoh orang-orang Asathirul
Awwalin.
TAHAP KETIGA
Mengenai hal ini, ada delapan Ciri-ciri “Asathirul Awwalin”
itu, :
v QS. 08 : 31
31.
dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata:
"Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau
Kami menhendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini
tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".
Ciri yang pertama orang-orang
Asathiirul Awwalin adalah merasa seolah-olah mampu berbuat sesuatu, sok tahu
dan sebagainya padahal dirinya tidak tahu apa-apa hingga menciptakan
kesombongan pada dirinya.
Jadi kalau misalnya ada orang yang
mengatakan “Akupun bisa melakukan seperti itu” dan meremehkan orang lain,
namun dibalik perkataannya itu dirinya tidak mampu melakukan apa-apa yang lebih
baik, seolah-olah banyak komentar dan kurang puas terhadap orang lain. Maka
sungguh dirinya sudah termasuk Asathirul Awwalin.
Jadi ASATHIRUL AWWALIN bukanlah
sekedar ayat di dalam Al-Qur’an sebagai sebuah cerita yang dilakukan oleh
orang-orang dahulu saja, tetapi ASATHIRUL AWWALIN ini sudah pecah menjadi perilaku
universal dari nabi Adam sampai hari kiamat yang banyak diantara manusia
melakukan hal ini. Alias ayat tentang Asathirul Awwalin ini berlaku
sepanjang masa terhadap seluruh kehidupan manusia.
v QS. 23 : 83
83.
Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan) ini
dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!".
Ciri yang kedua orang asathirul awwalin ini adalah “lebih
memilih nenek moyangnya untuk diikiti daripada Allah, alias menuhankan nenek moyangnya”.
Maka khususnya di Indonesia banyak sekali hal-hal yang
bertaliat kuat dengan budaya dan peradaban nenek moyang ini, dalam beragamna
pun, Islam di Indonesia sudah tidak murni lagi islamnya sebab sudah bercampur
baur dengan sentuhan adat istiadat nenek moyang.
Misalnya saja adanya kematian harus ada acara “Haul” atau
ulang tahun meninggalnya seseorang, kalau tidak dilakukan seolah-olah berdosa
dan bersalah dihadapan Allah. sehingga mati-matian seorang anak dan keluarga
mengusahan mencari dana untuk mengadakan acara yang dianggap benar tadi. Ketika
ditanya mengapa semua itu dilakukan, orang-orang hanya menjawab bahwa semua itu
adalah yang dilakukan oleh nenek moyang kami yang terdahulu. Sehingga banyak
orang-orang liar yang mengikuti sesuatu dari nenek moyangnya tanpa tahu makna
apa yang ada dari hal-hal yang dilakukannya. Selain itu masih banyak lagi
contoh-contoh untuk menggambarkan bahwa banyak diantara manusia yang menuhankan
adatnya ketimbang cara Allah.
v QS. 27 : 68
68.
Sesungguhnya Kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak Kami
dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala".
Ciri yang ketiga adalah mereka “Tidak tajut ancaman dan
neraka”.
Semua manusia tahu bahwa dirinya pasti mati dan menghadap
Allah, namun banyak diantara manusia yang lalai dan tidak mempersiapkan bekal
kematiannya dengan benar. Maka prototipe seperti ini adalah penentang Allah dan
berani menghadapi ancaman Allah kelak.
Banyak manusia yang gila harta dan dunia, terlambat
memperbaiki diri, menolak kebenaran, dan terjebak dengan permainan dunia ini,
sehingga melupakan diri kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan
segala hal yang diperbuat. Dan tidak jarang ketika disuruh taubat banyak yang
belum siap dan masih menganggap masih banyak waktu yang di berikan Allah
kepadanya, inilah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v QS. 68 : 15
15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia
berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
Ayat sebelumnya di surah 68 : 14 menyatakan bahwa karena dia
kaya dan memiliki banyak anak, maka disambung oleh ayat ini, Ciri yang keempat
adalah “Gelisah, banyak alasan karena merasa punya sesuatu”,
Maka perhatikanlah sangat jarang dan susah bagi orang-orang
kaya untuk dekat kepada Allah. karena sudah merasa memiliki dan bisa membeli
apa saja dengan hartanya menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Tatkala cerita orang
kaya kita tahu bahwasanya di zaman musa ada “Qorun”, seorang konglomerat besar
pada masanya. Namun dengan segala hal yang dimilikinya membuatnya tidak semakin
dekat kepada Allah. perhatikan pula “Fir’aun” yang merasa punya kekuasaan, ada
pula “Hamman” yang merasa memilki pengetahuan, dan juga “Samiri” yang sudah
merasa memiliki kebaikan namun ingin dipuji oleh orang lain. Semuanya
kepemilikan mereka membuatnya menjadi orang-orang ASATHIRU AWWALIN sebagai
contoh buat pelajaran manusia semua.
Termasuk saat ini, banyak sekali orang yang merasa kaya,
merasa punya ilmu dan kekuasaan “sangat sulit untuk bertaqwa kepada Allah swt”,
ada yang mengaku sibuk, ada yang mengatakan tidak ada waktu untuk mengaji
karena banyaknya pekerjaan. Mereka semakin tersiksa dengan apa yang dimilikinya
dan semakin tersiksa karena Allah ditinggalkannya. Sikap inilah yang menjadikan
ciri orang ASATHIRUL AWWALIN.
v QS. 83 : 13
13.
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah
dongengan orang-orang yang dahulu”
Di ayat sebelumnya mengatakan bahwa mereka mendustakan hari
pembalasan, maka ciri yang kelima adalah “Mendustakan Hari pembalasan”.
Banyak bukti yang kita lihat, banyak orang yang melakukan
keburukan tanpa memikirkan akibat yang dilakukannya, banyak orang kaya yang
licik, orang pintar yang menipu, dan penguasa yang liar tidak perduli kepada
rakyatnya, maka termasuklah mereka itu dalam garis ASATHIRUL AWWALIN. Mereka
mendustakan hari pembalasan Allah.
Semua tahu mati, semua tahu pasti kiamat itu ada, tapi kenapa
masih banyak pencuri, korupsi, jauh dari Allah, tidak mau bertaubat,
mengabaikan Al-Qur’an, tidak sholat, dan sebagainya. Itulah orang-orang
ASATHIRUL AWWALIN”.
v QS. 46 : 17
17.
dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya,
Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan,
Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya
itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu,
berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu Dia berkata: “Ini
tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
Kata-kata “UF” pada ayat diatas adalah simbol keluhan,
maka ciri keenam ini adalah “merasa pintar, suka mengeluh, selalu capek dan
dan suka membantah.
Rasanya banyak sekali manusia yang termasuk dalam gari bagian
ini. Banyak orang miskin yang mengeluh dengan kemiskinannya, orang kaya mengeluh
karena merasa kurang dengan apa yang dimilikinya, orang pintar mauoun orang
bodoh masih banyak yang suka mengeluh. Tidak ada uang mengeluh juga, ada uang
merasa tidak puas dan sebagainya.
Dan ketika kebenaran datang kepadanya maka dirinya selalu membantah
dan tidak mau mengikutinya, itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN.
v QS. 06 : 25
25.
dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, Padahal Kami telah
meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan
(kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda
(kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka
datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata:
"Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."
Ciri yang ketujuh ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Hati dan
telinganya tersumbat, serta dirinya hanya mau dengar oleh orang lain namun
dirinya tidak mau mendengarkan orang lain”.
Ini termasuk hal yang sangat berat, ketika ada orang tua
menasehati yang benar, banyak yang melawan, ketika perkataan yang benar datang
dari anak kecil kepada orang tua, dianggap anak itu masih kecil dan sok
mengajari orang tua, suami hanya mau di dengar tapi tidak mau mendengarkan
istrinya. Begitu pula sebaliknya dan seterusnya.
Hal yang paling berat adalah bagaimana diri bisa mendengarkan
orang lain, sebab terlampau banyak yang kita ketahui, terlampau luas ketinggian
diri kita sehingga berat mendengarkan sedikit kebenaran dari orang lain.
Makanya dalam hal ini tidak ada istilah “Senior dan junior,
tidak ada istilah tua maupun muda” sebab kalau ini kuat di dalam diri maka inilah
yang menyumbat hati dan telinga dari mendengarkan orang lain. Sebab kalau sudah
merasa tua dan berpengalaman berat untuk mendengar orang muda yang benar, kalau
sudah merasa senior maka tidak akan mau mendengarkan yang benar dari junior,
begitulah seterusnya.
Itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v QS. 25 : 05
5.
dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya
supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya Setiap pagi dan
petang."
Perhatikan ketujuh ayat yang menjadi ciri Asathirul Awwalin
sebelumnya dibandingkan dengan ayat ini, maka akan terlihat satu perbedaan yang
mencolok dan unik.
Perkataan “ASATHIRUL AWWALIN” pada ayat sebelumnya selalu berada
di akhir ayat atau di ujung ayat, sebaliknya pada ayat ini, perkataan itu Allah
tuliskan didepan ayat atau sebagai pembuka kalimat ayat.
Kalaulah kita pikirkan dan menarik sebuah kesimpulan yang
sederhana maka kita akan dapat melihat bahwa, ciri kedelapan ASATHIRUL AWWALIN
ini adalah “Otobiograpi atau ingin selalu menunjukkan siapa dirinya”.
Maksudnya adalah setiap dia berkarya melakukan sesuatu, dia
selalu menganggap bahwa dirinyalah yang melakukan itu semua, seolah bahwa kalau
tidak ada dirinya maka tidak akan mungkin terjadi. Nah inilah sikap dan sifat
yang sangat berbahaya. Sebab ini adalah sifat Iblis.
Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada nabi Adam,
hanya Iblis yang menolak karenba begitu kuatnya “Otobiografi” dirinya. Dia
merasa banyak berjasa karena langit dan bumi adalah ciptaan Allah melalui kerja
tangan Iblis, karena merasa berjasa yang sangat besar itulah Iblis tidak mau
bersujud hingga menjadikan dirinya menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah
sebagai penghuni neraka kelak.
Jadi kalau ada orang mengatakan, dan sikap dirinya menyatakan
bahwa segala sesuatu itu terjadi karena dirinya, karena kerja keras dan susah
payahnya, maka dirinya sudah termasuk Iblis dan atau sudah menjadi ASATHIRUL
AWWALIN.
Karena itu jangan tunjukkan siapa diri ini kepada orang lain,
jangan tunjukkan diri sudah berjasa, jangan tunjukkan diri ini sudah banyak
berkarya, jangan pula merasa hanya diri ini yang melakukan sedangkan menganggap
orang lain tidak bisa apa-apa. Biarkan hanya diri sendiri dan Allah saja yang
melihat serta menilai karya ataupun perbuatan yang dilakukan. Jangan tunjukkan
kepada siapapun diri sudah melakukan banyak hal. Tapi ciptakanlah sikap bahwa
diri ini belum melakukan apa-apa dan belum ada menciptakan karya apapun juga
agar terciptanya diri yang rendah hati.
TAHAP
KEEMPAT
Nah sebagai penutup kajian yang sederhana ini, maka untuk
mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini agar tidak menjadi pola sikap dan tindakan
dalam hidup, maka mengambil pamungkas di surah 25 ayat 05 diatas tadi. Bahwa
sesuai dengan surah di dalam Al-Qur’an, yang menjadi urutan ke 25 dalam
Al-Qur’an adalah surah AL-FURQAN.
Itulah yang mampu mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini, sebab
dengan kemapuan itulah diri mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk
serta mana yang benar dan mana yang salah.
kemampuan AL-FURQAN ini pada Hakikatnya adalah “AL-QUR’AN.
Maka satu-satunya yang mampu menjadi alat pelindung dari
asathirul awwalin ini adalah kitabullah Al-Qur’anil Karim. Siapa pun yang
menjauhkan diri daripada Al-Qur’an maka menjadi Iblis lah dirinya dalam bentuk
sebutan “MAKHLUK ASATHIRUL AWWALIN”.
Langganan:
Komentar (Atom)