Pages

Sabtu, 31 Agustus 2013

Hikmah ketiga. " HUKUM-LAW "

Hikmah ke TIGA. " HUKUM-LAW ". "Hukum manusia dibatasi oleh waktu, dikuasai oleh masa, dapat dbantah dengan keadaan.Bahkan dapat dikhianati oleh orang yang membuat hukum tersebut. Tapi hukum Allah tak pernah lapuk dalam waktu dan pudar dengan masa, juga tak akan pernah dapat dibantah oleh siapapun karena hukum Allah merupakan kebenaran yang selalu beriringan dengan hati nurani setiap manusia". Maka tegakkanlah hukum Allah jika kita termasuk orng yang tunduk, tetapi tidaklah pantas yang mengaku tunduk sedang diri dan hati jauh dari mengenal Allah sang pemilik Hukum. Wallahu A'lam.

Hikmah kedua. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE

Hikmah ke 2. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE. "Agar engkau Aku ingatkan ketika lupa, maka carilah kesempatan untuk ingat kepada-Ku di saat engkau disibukkan dengan yang lain, Karena sesungguhnya Aku tidak melupakan hambaku yang pernah ingat kepada-Ku di waktu ia lalai mengingat diri-ku". Ingat kepada Allah sebenarnya pekerjaan mudah, tapi kenapa kita lupa, ya karena masih ada yang kita sangka lebih penting dari selain Allah. Padahal yang kita sangka itu belum tentu mengingat kita. Wallhu A'lam.

hikmah pertama : knowledge

Hikmah pertama. PENGETAHUAN-KNOWLEDGE. Dizaman ini telah banyak manusia yang merusak matanya dengan kebutaan, bukan karena mereka orang bodoh dari ilmu pengetahuan, namun mereka hanya orang-orang yang telah dibodohi oleh ilmu pengetahuannya sendiri. Mereka menganggap dirinya dapat mengupas ilmu pengetahuan didunia, padahal pengetahuan tentang dirinya sendiri masih dalam kebutaan. Apakah mereka pantas dikatakan orang- orang pintar ?!. Orang yang pintar adalah orang yang dapat menghalau ilmu pengetahuan dunia kepada istana ilmu pengetahuan yang hakiki, yaitu ALLAH SWT. Wallahu A'lam.

Kamis, 29 Agustus 2013

Remembrance

Hikmah ke 2. ZIKIR-INGAT-REMEMBRANCE. "Agar engkau Aku ingatkan ketika lupa, maka carilah kesempatan untuk ingat kepada-Ku di saat engkau disibukkan dengan yang lain, Karena sesungguhnya Aku tidak melupakan hambaku yang pernah ingat kepada-Ku di waktu ia lalai mengingat diri-ku". Ingat kepada Allah sebenarnya pekerjaan mudah, tapi kenapa kita lupa, ya karena masih ada yang kita sangka lebih penting dari selain Allah. Padahal yang kita sangka itu belum tentu mengingat kita. Wallhu A'lam.


PENGETAHUAN-KNOWLEDGE.

Hikmah pertama. PENGETAHUAN-KNOWLEDGE. Dizaman ini telah banyak manusia yang merusak matanya dengan kebutaan, bukan karena mereka orang bodoh dari ilmu pengetahuan, namun mereka hanya orang-orang yang telah dibodohi oleh ilmu pengetahuannya sendiri. Mereka menganggap dirinya dapat mengupas ilmu pengetahuan didunia, padahal pengetahuan tentang dirinya sendiri masih dalam kebutaan. Apakah mereka pantas dikatakan orang- orang pintar ?!. Orang yang pintar adalah orang yang dapat menghalau ilmu pengetahuan dunia kepada istana ilmu pengetahuan yang hakiki, yaitu ALLAH SWT. Wallahu A'lam.

Rabu, 28 Agustus 2013

Al-Ummu madrosatun

Al-Ummu madrosatun atau ibu adalah sekolah. Alangkah luas maknanya. Di pundak ibulah terletak tanggung jawab perkembangan ruhiyah (mental), aqliyah (intelektual), dan jasadiyah (fisik) seorang anak terpikul. Seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya dan rumah tangga suaminya.
Dan ia akan ditanya oleh Alloh atas kepemimpinannya itu. Sebagaimana Rosululloh bersabda : “Setiap manusia keturunan adam itu adalah pemimpin, maka seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya sedangkan wanita adalah pemimpin rumah tangga”. (HR. Ibnu Sunni dari Abi Hurairah).
Menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang memakan waktu hampir 24 jam. Untuk itu menjadikan rumah tangga sebagai sebuah “kantor” yang menyenangkan, dengan anak-anaknya sebagai ‘kolega’ sekaligus’ bawahan’, kita harus senantiasa segar dan cerdas dalam me-manage mereka.
Akan tetapi sering terjadi, setelah menikah seorang akhwat muslimah justru menurun kapasitasnya untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Banyak faktor yang membuat muslimah demikian. Bisa jadi, kesibukan mengatur rumah tangga demikian ‘hebatnya’ sehingga sang ibu lebih mirip khodimat dari pada seorang yang menyimpan kecerdasan intelektual. Menjadi ibu bagi anak-anak yang berkualitas mujahid dan mujahidah adalah dambaan setiap muslimah.
Untuk mewujudkannya perlu usaha dan keyakinan kuat bahwa menjadi seorang ibu lebih dari sebuah pekerjaan. Menjadi ibu dengan kualitas ‘madrasah’ adalah gaya hidup. Akan tetapi untuk masa sekarang ini sangat disayangkan, keberadaan seorang ibu yang ber-’karir’ untuk mencetak generasi mujahidin seakan kurang bermutu.
Banyak wanita yang memilih bekerja di luar rumah semata untuk meraup lembaran uang, padahal seorang ibu memiliki peluang terbesar untuk menumbuhkan ruhul jihad dalam dada anak-anaknya.
Pandangan yang keliru dari sikap orang tua yang memprioritaskan pendidikan anak-anaknya semata untuk mencapai kehidupan duniawi telah menjangkiti pikiran sebagian besar para orang tua. Orang tua sekarang telah memacu anak-anaknya untuk mencari kesenangan dunia. Cita-cita yang selalu dibangga-banggakan orang tua adalah anaknya menjadi dokter, pengusaha, artis, model dan sebagainya. Sehingga anak-anaknya dimasukan ke dalam dunia pendidikan bukan untuk mendapatkan ilmu melainkan untuk meraih gelar yang mengantarkannya pada kedudukan tinggi dan harta sebanyak-banyaknaya. Padahal Rosululloh bersabda : “Barang siapa mencari Ilmu bukan karena Alloh atau ada yang dicari selain Alloh, maka tempat duduknya di neraka,” (HR. Tirmidzi dan Abu daud).
Figur seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya untuk cinta Alloh, Rasul dan jihad, idealnya dimiliki setiap ibu-ibu muslimah. Ciri percaya diri tentu harus dimiliki oleh seorang ibu. Seorang ibu yang tidak percaya diri dikhawatirkan melahirkan generasi peragu yang selalu tergantung dan pesimistis. Berorientasi pada tugas dan hasil akan membuat seorang ibu memiliki target-target tertentu yang harus dicapai dalam tugasnya. Tanpa sebuah target, pekerjaan apapun menjadi tidak terarah dan tidak efesien. Target prestasi puncak seorang ibu adalah manakala berhasil mengantarkan anak-anaknya meraih syahadah.
Laba seorang ibu adalah ridho Alloh dan ridho suaminya. Orientasi terhadap ridho Alloh dan suami membuahkan keikhlasan dalam niat dan amal. Seorang ibu adalah pengambil risiko yang baik. Dalam mengelola rumah tangga seorang ibu tidak akan pernah berhenti dihadapkan pada pelbagai tantangan. Kemampuan mengambil risiko dan mencintai tantangan akan membuahkan ‘azam yang kuat untuk mengatasi masalah. Seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Maka, menempatkan diri sebagai seorang pemimpin menjadi sikap mutlak seorang ibu. Sebagai seorang pemimpin bagi anak-anaknya, kewibawaan dan teladan dari ibu sangat diperlukan, karena anak belum mengenal dirinya dengan baik. Namun demikian, seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang tidak kebal kritik. Menjadikan anak-anak sebagai teman dialog, diskusi akan membuat mereka merasa dihargai. Maka bersikap terbuka terhadap kritik dan saran dari anak-anak kita bila beranjak dewasa akan membantu mereka menemukan jatidirinya.
Mendidik anak membutuhkan kiat-kiat yang inovatif dan kreatif. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh seorang ibu yang selalu menambah wawasannya. Disamping itu seorang ibu pun dituntut fleksibel. Ia tahu kapan harus berperan sebagai pemimpin, sahabat, atau seorang guru di hadapan anak-anaknya. Masukilah dunia anak-anak dengan perasaan gembira, berbicara tentang kesenangan mereka, melibatkan diri sepenuhnya terhadap problem-problem mereka.
Seorang ibu adalah wanita mulia, yang harus senantiasa menyadari tugasnya. Menikmati prestasi menjadi “ummi madrosatun” akan membuat seorang ibu berdedikasi total terhadap tugasnya, dan hal ini tidaklah mudah. Untuk itu membutuhkan keikhlasan, ketekunan, kerja keras, rasa cinta dan do’a.
Jadi, jadi sekolah untuk anak-anak? Itulah fungsi seorang ibu.

Renungan"RABU"=Ridha Allah Bersama Ummi-Bunda".

Renungan"RABU"=Ridha Allah Bersama Ummi-Bunda". Betapa besar dan agung jasa ummi kepada kami. Melalui diri Ummi, kami diciptakan Allah. Tanpa Ummi yang melahirkan, kami tidak pernah ada dipentas bumi ini. 9 bulan plus 10 hari kami dalam kandungan Ummi sampai kami dilahirkan, kemudian disusui selama 2 tahun tanpa pamrih, tampa lelah, tanpa keluh, yang ada hanya cinta, perhatian dan kasih sayang. Ummi yang memelihara, membesarkan, mendidik, menyekolahkan kami sampai dewasa, bahkan sampai menikahkan kami. Oooh Ummi, dengan apa kami dapat membalas jasamu yang sangat mulia ini???. Kami tau tidak ada lagi nilai yang dapat membalas jasa Ummi, meskipun kini kami sudah jadi presiden, menteri, gubenur, bupati, camat, lurah. Meskipun kami saat ini sudah jadi guru, polisi, jaksa, hakim, pengacara. Ustaz, ulama, kyai. Meskipun sekarang kami sudah Sarjana, Doktor dan Profesor. Tapi semua ini kami bukan apa-apa dan siapa-siapa dimata Allah tanpa ridho Ummi kepada kami. Yaa Ummi, kedudukanmu, derajatmu sungguh amat sangat terhormat dan mulia disi Allah Swt. Ridha Allah disandangkan kepada diri Ummi, demikian juga murkaNya. Begitu sabda rasul kita Muhammad Saw. Saudaraku, hati-hatilah jangan pernah meyakiti hati Ummi kita, jangan pernah berkata ah, ih, uh, karena itu bisa menjadi bencana bagi kita. Mohonlah ampun dan maaf, mohonlah ridha Ummi kita, Insya Allah, Allah akan meridhai kita. Ya Allah ampuni kami, dan kedua orang tua kami, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi dan memeihara kami diwaktu kecil kami. Aaamiiin. Wallahu A'lam.

"Renungan Syawal"

"Renungan Syawal" perihatin dengan berbagai persoalan umat yg tak kunjung menjadi baik. pertikaian, permusuhan, pembunuhan terjadi terus menerus tanpa Haq. Ternyata akar masalahnya adalah karena manusia menuhankan hawa nafsunya, bukan bertuhan kepada Allah Swt. Kesalahan terbesar manusia, karena merasa "memiliki" kuasa, ilmu, harta dan keluarga, padahal sejatinya pemilik yg sebenarnya adalah Allah Swt. Akibatnya manusia diperbudak oleh apa saja yg dimilikinya. Lihatlah contoh pelakunya, fir' awn, Qarun, Haman dan Samiry berkolaborasi menentang kebenaran yang dibawa oleh nabi Musa.as. Seluruh pemimpin dunia saat ini mencerminkan proto tipe FQHS itu. Syawal mengajak kita semua kembali memperbaharui keimanan kita, dengan tidak "merasa memiliki" kecuali hanya memilik Allah saja. Siapa yg merasa memiliki berarti mendustai dirinya sendiri dan jiwanya pasti tidak tenang karena takut kehilangan segalanya. Yang benar "Takutlah kehilangan Iman yg benar; Takutlah kehilangan Allah Swt" . Wallahu a'lam bishshawab.

"KAMIS"= Kami Islam"

Renungan"KAMIS"= Kami Islam". Sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidup dan matiku Lillahi Rabbil'alamiin. Beginilah ikrar setiap muslim dalam kesehariannya, tidak ada celah sedikitpun keluar dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Pasrah total kepada Allah dengan segala kehendakNya. Hidupnya Lillah, Fillah, Ma'allah, Ilallah, Ridhollah. Begitulah hendaknya segala piranti diri berupa indra, otak dan hati menyesuaikan diri dengan kehendak Allah, jangan membantah, membangkang, ingkar dan munafik. Katakan saja kepada Allah dengan tulus " Sami'na wa atha' na. Hidupmu akan bahagia disini dan disana. "Udkhuluu fissilmi kaaffah"

JUM'AT : jika umat bersatu.

Renunga "JUM'AT"=Jika Umat Bersatu. Kekuatan umat Islam ada pada persatuan dan persudaraannya. Persatuan dan persaudaraan itu nampak ketika sedang melaksanakan shalat Jum'at. Ketika itu tidak tanpak perbedaan golongan antar umat, yang ada hanya Umat Islam bersatu, bersaudara dan berjamaah menghadap beribadah kepada Allah Yang Satu. Diluar masjid umat hendaknya bersatu, bersaudara, berjamaah menghadapi musuh yang mengganggu dan memusuhinya berupa kemungkaran dan maksiat kepada Allah.Tapi tahukah kita bahwa musuh utama bagi setiap pribadi, yang harus dilawan, dikendalikan adalah sifat kesombongan, kebencian, kedengkian, keserakahan, dan kebakhilan kepada sesama Umat. Sifat ini menyatu dalam diri yang berada dibalik hawa nafsu ammarah. Sifat2 inilah yg menjadi sebab perpecahan, pertikaian diantara umat sampai saat ini. Bisakah sifat itu sirna dalam diri kita dan berganti dengan sifat cinta, kasih sayang, tolong menolong dalam kebajikan??? wallahu a'lam, kembali pada kesadaran kita dalam memaknai pentingnya persatuan, persaudaraan dan berjamaah lebih penting dari perpecahan dan pertikaian umat. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Wassalam.

SABTU : sabar terhadap ujian.

Renungan "SABTU"= Sabar Terhadap Ujian. Dalam keseharian hidup kita, suatu saat merasa bahagia, dan pada saat yang lain merasa susah atau sedih. Tidak ada orang yg bahagia terus atau bersedih terus sepanjang usianya. Begitulah sunnatullah yang harus dijalani oleh semua makhluk hidup. Kalau begitu hidup ini ujian hidup antara bahagia dan susah. Ada yg kaya ada yg miskin, ada yg pintar ada yg bodoh, ada yg sehat ada yg sakit. Untuk apa semua itu ada? Oh ternyata hanya ujian belaka, untuk mengetahui dan diketahui siapa yg lulus naik kelas dan siapa pula yg mogok kelas. Allah tidak memandang kayamu-miskinmu, sehat- sakitmu, pintar- bodohmu, tapi Allah melihat dan menilai bagaimana keadaan hatimu ketika diuji dengan itu semua. Ridho, sabar, syukur, atau putus asa ataukah ingkar dan sombong ???. Terserah kita mau pilih hidup yang mana, toh yang merasakan akibatnya kita sendiri bukan yang memberi ujian yaitu Allah Swt. Tapi tahukah kita bahwa Allah selalu menghendaki kita bahagia selama kita taat, nurut pada kehendakNya. Solusinya adalah DUIT= Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal. Wallahu A'lam.

Renungan"AHAD"= Al Qur'an-Hadits Diamalkan".

Renungan"AHAD"= Al Qur'an-Hadits Diamalkan". Alqur'an kitab suci semesta, menjadi "RUH" alam semesta. Alam ini masih hidup dan aktif bergerak memberi kehidupan karena "Ruh" nya masih ada, yaitu Alqur'an. Suatu saat nanti alqur'an akan lenyap diangkat oleh Allah karena tidak ada lagi yang membaca dan mengamalkan kandungannya maka dunia ini akan kiamat, berpindah ke alam akhirat. Sungguh besar peran bagi para pengajar, pelajar, pecinta alQur'an, mereka itu adalah "Hamilul Qur'an keluarga Allah" yaitu para Qari dan Hafidz alqur'an, para ulama pewaris anbiya', para ustaz/ah, para guru dan santri pondok pesanteren alQur'an. Karena mereka itulah yang dipandang oleh Allah sehingga bumi ini masih ada sampai saat ini. Siapa yang menyakitinya maka Allah murka kepadanya, begitu sabda Nabi kita Muhammad Saw. Al-Hadits adalah segala sesuatu yg bersumber dari nabi Muhammad saw berupa ucapan dan perbuatan serta persetujuan Nabi, sebagai aplikasi terapan dari alqur'an dan menjadi teladan hidup bagi seluruh manusia. Rasulullah Saw, meninggalkan umatnya dua hal yang jika umat berpegang teguh kepadanya niscaya tidak akan tersesat, itulah alQur' an dan Sunnah Rasul. Semoga kita tidak termasuk orang yang dikeluhkan Rasulullah karena melalaikan dan melecehkan alQur'an. "Mahjuuraa". Wallahu A'lam.

Renungan "SENIN"= Senyum itu Indah".

Renungan "SENIN"= Senyum itu Indah". Berbahagialah kita kalau dalam keseharian kita dapat tersenyum setiap saat, sementara saudara-saudara kita dibelahan dunia lain susah tersenyum karena sedang dilanda perang saudara dalam negerinya, Afganistan, Irak, Suria, Mesir, Rohingya Thailan, dan orang yang sedang dalam penjara dan rumah sakit. Semoga masalahnya cepat selesai supaya bisa kembali tersenyum didepan keluarga dan saudaranya. Dalam dunia medis disebutkan bahwa untuk tersenyum dibutuhkan 26 Otot wajah, sedangkan cemberut menggerakkan 62 otot wajah, itu sebabnya para ahli kesehatan mengatakan bahwa dengan banyak tersenyum wajah kelihatan muda, sedang wajah cemberut kalihatan lebih tua. Tersenyum itu sehat, tersenyum itu indah, tersenyum itu damai, tersenyum itu bahagia lahir batin. Benarlah sabda Rasulullah Saw " Senyummu pada saudaramu adalah Sedekah". Tentu saja maksudnya senyum yang lahir dari hati yang tulus, jujur dan benar. Tidak semua senyum bernilai sedekah bergantung niatnya, karena ada senyum politikus, ada senyum diplomatik, ada senyum selebriti, ada senyum hipokrit, semua itu disebut senyum jebakan bermaksud ada udang dibalik batu. Kalau kita termasuk senyum yang seperti apa? Hanya hati kita sendirilah yang mengetahinya. Saudaraku tersenyumlah dengan memperhatikan situasi dan kondisi, kapan saat yang tepat untuk tersenyum supaya tidak menimbulkan fitnah. Tersenyumlah anda sehat jiwa dan raga, lahir batin. Wallahu A'lam.

Renungan "SELASA"= Selalu Bersama Allah".

Renungan "SELASA"= Selalu Bersama Allah". "Dia bersama kamu dimana saja kamu berada". Kalam ini sangat populer dikalangan "Sufi" mereka memahami sebagai "Ma'rifatullah" yang sangat tinggi. Sebenarnya setiap orang beriman harusnya berusaha dengan sungguh-sungguh dengan segala daya dan upaya untuk dapat merasakan kebersamaaan dengan Allah Swt. Karena hanya dengan itu kita dapat meningkatkan kualitas ketaatan dan pengabdian kita kepda Allah, serta dapat meninggalkan segala yang diharamkan Nya, sehingga seluruh aktifitas kita selalu sesuai, sejalan dan selaras dengan kehendak Allah Swt. Mengapa manusia berani berbuat kejahatan, membunuh, perkosa, selingkuh, korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi uang dan sex, benci, dendam dan sebagainya? Ya, karena tidak merasakan kebersamaan dengan Allah Swt. Seolah Allah itu jauh, tidak melihat, tidak mendengar, tidak mengetahui, padahal Allah lebih dekat dari urat leher kita dan kemana saja kita berpaling disitu ada wajah Allah. Allah tidak ngantuk apalagi tidur. Tanpa Allah mana mungkin semua ini ada. Tapi semua itu haruslah dipahami dengan pemahaman yang benar. Dan sebaliknya bagi orang yang telah merasakan kebersamaanya dengan Allah Swt, tidak berani berbuat salah apalagi dosa, mereka itulah yg disebut alQur'an sebagai Muttaqiin, Shabiriin dan Muhsiniin. Ya Allah bimbinglah kami, bersihkan hati kami, jernihkan fikiran kami, luruskan ucapan kami, baguskan perbuatan kami, supaya kami dapat merasakan nikmatnya ber Iman dan ber Islam. Wallahu A'lam.

Jumat, 23 Agustus 2013

Kecintaan Mu'adz bin Jabal ra pada Rasulullah SAW.

Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahwa Mu'adz bin Jabal ra telah berkata: "Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang, kemudian orang itu berkata kepadaku: "Apakah anda masih tidur juga wahai Mu'adz, padahal Rasulullah SAW telah berada di dalam tanah." Mu'adz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu ia mengucapkan: "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim?" Setelah itu ia lalu mengerjakan solat. Pada malam seterusnya, ia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama. Mu'adz berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan?" Kemudian ia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman.

Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'adz berkata kepada mereka: "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu'adz menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud:

"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?" (Az-Zumar: 30).

Maka menjeritlah Mu'adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sadar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi:

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144)

Maka Mu'adz pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad?" Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: "Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala." Kemudian ia berkata: "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?" Lalu iapun pergi meninggalkan mereka.

Di saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Lalu Mu'adz mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'adz bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai Mu'adz, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu'adz terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil Mu'adz: Wahai Mu'adz sadarlah dan bangunlah." Ketika Mu'adz sadar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddik, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu'adz melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah.

Mu'adz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'adz menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri lagi. Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia adalah Mu'adz yang sedang pingsan. Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu'adz, lalu ia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'adz, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: "Sampaikanlah salamku kepada Mu'adz." Maka Mu'adz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah ra."

Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu'adz mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu'adz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahli bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata,

"Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW."

Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Mu'adz?" Fatimah rha lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sampaikanlah salam saya kepada Mu'adz dan khabarkan kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Mu'adz bin Jabal keluar dari rumah Fatimah ha menuju ke arah kubur Rasulullah SAW.

wanita pejuang


Ketika mendengar suaminya menjadi khafilah baru, Fatimah sangat terkejut. Namun ia lebih terkejut ketika tahu kalau suaminya itu dikabarkan menolak segala fasilitas istana.

Umar bin Abdul Aziz memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.
Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya. Sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan, padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya?

Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat.

Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta, “Fatimah, isteriku…! Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW. Tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku  terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.”

“Lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?” tanya Fatimah.

“Fatimah…! Engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat Islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali ke orang tuamu!” jawab Umar bin Abdul Aziz.

Fatimah kembali bertanya,”Ya suamiku…apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”

“Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku,” jawab
Umar bin Abdul Aziz lagi.

Aneh. Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal, tidak kecewa mendengar keputusan suaminya ia. Ia tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan. Justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan, “Suamiku…! Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.”

Fatimah merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra khalifah daulah Abbasyiah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Layaknya putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan sosok yang relegius dan sangat amanah.

Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi bakti dan keridaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat.

Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat Islam masa itu.

Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang  dalam kondisi rusak.

Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itu pun menanyakan sesuatu hal, “Ya Sayyidati…, mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?” Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.

Sabtu, 10 Agustus 2013

lihat diri anda.......



sebab banyak pelajaran dari diri sendiri.

Kita lahir dengan dua mata didepan wajah kita, mengajarkan kepada kita untuk selalu optimis dengan masa depan, dan tidak pernah terfokus pada masa lalu, bukankah kita hidup untuk kedapan, tidak mungkin waktu akan berjalan kebelakang. Namun janganlah lupa dengan masa lalu dimana mungkin ada masa kita gagal dan tidak berhasil dalam suatu tujuan, jadikanlah kegagalan sebagai bahan pelajaran agar kita mampu untuk bangkit dan berkata aku BISA……………….., dan aku tidak mau berhenti dalam rasa penyesalan yang telah terjadi di waktu dulu. Lalu sudahkah kita bersyukur pelajaran yang diberikan Allah lewat mata kita.

Kita dilahirkan dengan 2 telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Mendengarkan dari dalam diri dan dari luar diri, disaat ada tamu yang tidak diundang datang dalam bentuk kegelisahan dan kegalauan (ciyee…ciyee, yang lagi galau…….hihiiihiihi….) maka sudah sepantasnyalah diri kita mendengar berita dari dalam diri yaitu bahasa kalbu (sebab banyak dalam diantara manusia menghiananti bahasa kalbu yang hanya ingin kebenaran) dan dari luar diri berupa nasehat-nasehat yang baik, dan bisa jadi lewat media yang benar, seperti Al Qur’an dan nasehat teman yang memang berkompenten dalam bidangnya, jangan jadikan diri ini hanya mau didengar sementara tidak mau mendengar, maka rusak diri jika hal ini dilakukan.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, sehina apapun kita dimata manusia lainnya kita tetap kaya dan kita akan tetap mulia. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. sebab apa yang anda fikirkan didalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan. Bukankah pikiran dan idea adalah harta terbesar dalam diri manusia lalu mengapa kita bersedih dengan orang disekitar kita yang mungkin selalu mencemooh atau menghina kita, barangkali kita dimata manusia hina dan miskin, belum tentu kita hina dan miskin dimata Allah,

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, antara kita dan orang lain disekitar kita dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga lebih baik sedikit bicara namun bermanfaat dari pada bicara tapi tidak ada gunanya alias sampahhhhhhhhhhhh, namun perbanyaklah melihat dan mendengar sebab manusia yang benar selalu melihat hikmah dari berita, atau kejadian yang menimpanya dan yang berada disekelilinya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada pemberian apapun  bentuknya yang tentunya bernilai dimata Allah yang satu, dan pemberian itu  diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam.  Belajar  untuk mmberikan dan jangan mengharapkan imbalan, give the best take the risk, jangan pernah berharap kepada siapapun ketika kita memberi dapat dibalas sesuai dengan apa yang kita beri.
Belajar untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain dan menikmati apa yang telah kita beri karena kita faham betapa kita sangat rela dan mencari siapa saja yang mau menerima apa yang kita berikan, tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk memberi, seperti apa yang telah kita berikan kepadanya. Berilah yang terbaik kepada orang lain dan jangan mengharapkan imbalan, sebab kita ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu maka kita akan menemui dan mendapatkan pemberian yang lebih indah nantinya.

Jumat, 09 Agustus 2013

makna bulan syawal.

Bulan Syawal, Bulan ini dalam penanggalan atau Kalender Hijriah islam, adalah bulan ke-10. Arti kata syawal adalah naik, ringan, atau membawa (mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. Selain itu, biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta mengandung atau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini. Karenanya, orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial. Kepercayaan ini dihapus oleh islam dengan peristiwa pernikahan Nabi Muhammad saw.
bulan syawal juga berada setelah bulan ramadhan dimana bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat serta idkuminannar, dimana khususnya umat muslim digembleng langsung oleh Allah, nah dari arti kata diatas saja kalaulah kita memang ingin mendapatkan petunjuk dari Allah maka bukanlah suatu kebetulan semata. bulan ini juga terkenal dengan hari dimana kita meraih kemenangan setelah melaksanakan pertempuran melawan jin, syetan, iblis yang ingin menggoda manusia, dan dibulan ini pula konon katanya manusia menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan.

syawal dalam arti kata.

NAIK. RINGAN, MEMBAWA (mengandung), berbicara kata naik maka pikiran kita akan berasumsi dari tempat rendah ketempat yang tinggi artinya ada step-step atau bagian yang harus kita lewati dan kita tinggalkan, tidak akan mungkin kita naik tanpa melewati yang rendah terlebih dahulu, nah inilah yang Allah maksudkan setelah manusia dididik dalam bulan ramadhan Allah menginginkan manusia yang telah mencicipi institusi ilahi dibulan ramadhan tersebut naik tingkat atau derajat  dimataNYA, dengan cara terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. dibulan ramadhan manusia diajarkan untuk meningkatkan shalat dimalam hari, maka setelah keluar dibulan ramadhan seharusnya tingkat shalatnya terus dinaikkan, akan tetapi jika dibulan ramadhan shalat malam mampu dilaksanakan, setelah keluar dari ramadhan shalat malam semakin malas alias berat dan tidak ada kekuatan dengan berbagai alasan, bisa dipastikan derajat manusia tersebut masih stagnasi dan bisa dikatakan gagal di bulan ramadhan. ramadhan juga mengajarkan agar manusia mampu untuk menahan lapar dan dahaga, bukankah lapar dan dahaga adalah lambang dari kebutuhan perut manusia,  maka bukti dari keberhasilan tersebut sikapnya terhadap dunia ini tidak terlalu dominan, tidak terlalu menggebu-gebu dengan kehidupan dunia yang melenakan, semua tahu bahwasanya dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, kalaulah persinggahan maka pasti suatu saat kita sebagai manusia akan pergi meninggalkan persinggahannya dan menuju kepada tujuan yang benar yaitu akhirat,(mati), ramadhan juga mengajarkan kita untuk bisa mengontrol emosi atau amarah manusia, bukti dari keberhasilan dibulan ramadhan adalah setelah keluar dari bulan ramadhan sikap sabarnya terus dinaikkan atau ditingkatkan, ramadhan adalah bulan turunnya Al Qur'an dimana pada malam-malam dibulan ramadhan banyak diantara kita yang melakukan tadarusan dimasjid-masjid, atau langgar-langgar, seharusnya setelah keluar dari bulan ramadhan kegiatan tersebut terus ditingkatkan dan dinaikkan. ramadhan juga mengajarkan dimana kita harus memberikan sebagian harta yang kita miliki yaitu lewat zakat fitrah, manusia yang berhasil dan naik tingkat derajatnya dimata Allah maka manusia tersebut selalu memiliki sifat suka menolong dan suka memberi alias tidak bakhil dengan harta yang dimilikinya. bukankah harta yang kita miliki atau yang kita dapatkan adalah pemberian dari Allah juga,, lantas mengapa manusia harus bakhil dengan harta yang diberikan Allah.

RINGAN.
sebuah kata yang memberikan sebuah pemahan tentang syawal, ringan adalah lawan dari kata berat, dibulan ramadhan manusia mampu untuk meringankan langkah dalam bentuk ketaqwaan dan membuktikan keimannya kepada Allah, dengan berbagai cara, meringkan langkah dalam beribadah kepada Allah untuk menuju masjid agar mampu melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, meringankan tangan dalam urusan tolong menolong, meringkankan perut agar mampu menahan lapar dan dahaga, meringankan diri agar mampu untuk membaca Al Qur'an pada waktu-waktu tertentu, setelah keluar dari ramadhan masihkah kita mampu untuk meringkankan langkah, tangan hingga perut kita dalam mencari ridhanya, jika keringan tersebut mampu dilaksanakan maka sudah sepantasnyalah kita menyandang predikat manusia pemenang, menang melawan setiap godaan yang datang kepada kita manusia.

MEMBAWA.

apa yang dibawa, sebenarnya kalaulah kita teliti institusi ilahi pada buan ramadhan yang telah lewat mengajarkan kita beberapa konsep yang mesti kita bawa.
1. bulan ramadhan adalah bulan turunya Al Qur'an, setelah keluar dari ramadhan sudah sepatutnya dan wajib bagi manusia yang bertaqwa membawa konsep Qur'an dimanapun kita berada, bagaimana caranya membawa konsep tersebut, jalannya adalah terus belajar dan membaca Qur'annya setiap hari, 
2. shalat, perhatikan bulan ramadhan yang telah lalu, bukankah bulan ramadhan mengajarkan konsep untuk meningkatkan shalat kita, maka manusia yang berhasil pada bulan ramadhan adalah manusia yang selalu menjga dan terus meningkatkan kualitas shalatnya.
3. infaq, ramadhan juga mengajarkan kita untuk suka menolong dan suka memberi kepada manusia lainnya,

tiga konsep inilah yang dapat ditingkatkan, diringankan untuk dilaksanakan dan dibawa sampai sebelas bulan berikutnya, agar kita mendapatkan penghargaan yaitu manusia yang kembali fitrah, dan manusia pemenang, tiga hal ini dilaksanakan maka manusia tersebut tidak akan pernah merugi, tidak akan pernah. hingga maut menjemput kita. dan hal ini dikatakan dalam surah fatir (35) ayat 29.


29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

 nb : surah fatir juga berarti fitrah jadi sangat keterkaitan erat dengan konsep syawal yaitu kembali fitrah.



ciri manusia binasa yang mengatkan Al Qur'an dongeng2 terdahulu.



Ashatirulawwaalin.
Al-Qur’an merupakan satu-satunya media Allah yang diberikan kepada manusia untuk menjawab segala macam hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan yang dialami manusia itu sendiri. Memasuki tahap demi tahap lintasan ayat perayat di dalam Al-Qur’an, ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dan dipahami maknanya sebagai pola kecerdasan untuk dekat kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali terdapat sandi-sandi rahasia, yang semuanya berisi penuh dengan wawasan dan pengetahuan sekaligus ada pola bertindak yang benar dari setiap ayat “KITABULLAH” itu. Segala macam pernak-perniknya sangat rinci Allah jelaskan sebagai bahan untuk berperilaku yang pantas sebagai manusia terhadap kehendak Allah.
Salah satu sandi yang menarik untuk dibahas dan dipelajari dari Al-Qur’an sekarang adalah tentang “ASATHIIRUL AWWALIN” atau “DONGENGAN PURBAKALA”. Karena banyak manusia yang sedikit asing dan saru tentang pemahaman “Dongeng Orang Terdahulu” ini, bahkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang makna “Asathirul Awwalin” begitu sulit dipahami dan jarang diteliti, sebab dianggap ayat-ayatnya atau “Asathirul Awwalin” hanyalah informasi yang berlaku kepada orang-orang terdahulu saja.
Mari perhatikan
TAHAP PERTAMA
Awalnya orang-orang dahulu mati-matian bekerja keras dan berjuang susah payah mengarungi bahtera kehidupan untuk mempertahankan populasi dirinya sebagai umat manusia. Dalam keadaan kerasnya perjuangan itu, semua orang dengan berbagai cara melakukan tindakan untuk mempertahankan diri dan hidupnya serta mempertahankan apa yang dimilikinya.
Pada saat itu, cara orang-orang mempertahankan hidup sangat unik dan menarik. Karena cara yang dipakai bukan dengan kekerasan, bukan dengan perang, juga bukan dengan berbunuh-bunuhan. Tapi orang-orang pada waktu itu mempertahankan diri dengan “BICARA” nya. Alias siapa yang paling pandai berbicara, ahli motivasi dan ahli komunakasi. Maka dialah yang akan menjadi penguasa sekaligus bisa bertahan hidup.
Jadi dari bicaranya, orang-orang pada waktu itu mampu memberikan kekuatan tersendiri untuk menarik hati siapa saja dalam rangka untuk mengumpulkan kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Dan dari sinilah muncul adanya perang antar pengaruh. Sehingga yang paling kuat bicaranya untuk mempengaruhi orang lain maka semakin berkuasalah dirinya dan semakin terjagalah hidupnya. Bahkan dari sini pula lahirnya ahli penyair-penyair dunia yang begitu luar biasa hebat dan berpengaruhnya perkataan seseorang untuk menarik jiwa siapa saja dibawah kendalinya. Dengan kemampuan berkata-kata inilah asal muasal hidupnya “Sang ASATHIIRUL AWWALIN”. Yaitu orang-orang yang senantiasa dengan perkataannya itu dalam rangka mengejek orang lain.
TAHAP KEDUA
Sejak saat itu berkembanglah “Asathiirul Awwalin” yang sejak dahulu sampai sekarang berkembang menjadi sikap dan tindakan hidup sebagian banyak manusia. Sehingga menciptakan orang-orang yang begitu hebat perkataannya dan suka mengolok-olok orang lain yang benar karena dianggap hanya merekalah yang hebat. Bahkan di zaman rasulullah saja orang-orang “Asathiirul Awwalin” ini begitu pesat berkembang.
Ketika Rasulullah ada sebagai utusan Allah untuk membawakan ajaran yang benar kepada mereka semua, yang membawa ketauhidan yang sempurna dengan Al-Qur’an untuk bertuhankan kepada Allah semata, orang-orang pada waktu itu membantahnya dan mengolok-olok rasulullah dengan perkataan yang sifatnya mengejek padahal kebenaran itu nyata, menunjukkan betapa merasa hebatnya orang-orang “Asathirul Awwalin” itu daripada orang lain.
Di dalam Al-Qur’an Allah mengatakan di surah An-Nahl(16) ayat 24 – 29 :
24. dan apabila dikatakan kepada mereka "Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang dahulu",
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada manusia yang dibawa oleh Rasulullah sebagai media untuk petunjuk hidup. Namun ketika itu saat Al-Qur’an itu nyata dan benar adanya sebagai kebenaran dari Allah, orang-orang pada waktu itu menganggap Al-Qur’an sebagai dongeng saja, bahkan Rasulullah dianggap sebagai tukang sihir dan sebagainya.
Orang-orang pada waktu itu melontarkan perkataan yang menyulitkan diri mereka sendiri, menghina, mencaci, menganggap remeh dan banyak urusan, tapi tidak mau menerima kebenaran. itulah yang namanya “ASATHIRUUL AWWALIN”.
Bahkan Al-Qur’an saja dianggap sebagai buku dongeng bukan sebagai petunjuk Allah, maka sudah barang tentulah siapa saja orang yang mengolok-olok Allah dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan, bertindaknya mengabaikan Al-Qur’an dan sulit mendengarkan orang lain, maka dia termasuk dalam golongan orang-orang “Asathirul Awwalin”.
Kemudian selanjutnya di surah 16 : 25 – 29
25. (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, Amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
26. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah Mengadakan makar, Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.
27. kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?" berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu: "Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir",
28. (yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan".
29. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu.
Nah pada ayat 25 di atas Allah tegas menjelaskan bahwa perkataan orang-orang “Asathirul Awwalin” menyebabkan mereka menanggung beban dan dosa yang memberatkan diri mereka sendiri, dan membuat mereka jadi sesat.
Jadi contoh sederhana misalnya ada orang mengatakan “AYOLAH BERTAUBAT KEPADA ALLAH, PELAJARILAH AL-QUR’AN”, maka orang yang Asathirul Awwalin mengatakan “NANTI SAJA, UMURKU MASIH MUDA, NANTI SAJA SETELAH TUA BARU BELAJAR, AL-QUR’AN KAN UNTUK ORANG TUA SAJA, DAN UNTUK ORANG YANG AHLI BAHASA ARAB SAJA, AKU KAN ORANG AWAM YANG TIDAK TAHU APA-APA”.
Maka ketahuilah sesungguhnya orang-orang yang mengatakan hal itu sungguh akan menerima beban dan memikul dosa yang berat kelak dihadapan Allah, karena perkataan yang dilontarkannya bermain-main terhadap peringatan Allah, alias dirinya sudah termasuk dalam bagian orang-orang “ASATHIRUL AWWALIN”.
Pada ayat selanjutnya semakin berat ancaman Allah kepada orang-orang ASATHIRUL AWWALIN ini, Allah akan membinasakannya, dan mencemooh serta menhinakannya, dirinya akan hancur, bahkan malaikat pun akan mencabut dengan keras nyawanya diambang kematian, dan lebih mengerikan lagi neraka jahannam sebagai tempat tinggalnya yang abadi.
Naudzu Billahi Min Dzaalik.
Karena itu perhatikan benar perkataan yang akan diucapkan baik kepada diri maupun kepada orang lain, terlebih lagi perkataan terhadap ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), jika perkataan yang keluar adalah dalam rangka mengolok-olok dan bermain-main serta membuat sulit diri sendiri untuk membahas sesuatu tetapi diri ini tidak mau melakukan yang benar, maka termasuklah diri ini sebagai makhluk ASATHIRUL AWWALIN itu.
Sebagaimana di zaman nabi MUSA as, ketika kaumnya disuruh menyembelih sapi betina, kaumnya malah bertanya hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan, karena apa yang diperintahkan Allah kepada Musa terhadap kaumnya adalah perintah Allah yang harus dilakukan, namun karena kaumnya melakukan sesuatu, banyak bertanya dan sebagainya dalam rangka membuat sulit mereka sendiri, sebab untuk diperintahkan menyembelih sapi betina saja harus ditanya warnanya apa, kulitnya bagaimana dan sebagainya, namun akhirnya mereka tidak melakukannya, itulah prototipe contoh orang-orang Asathirul Awwalin.
TAHAP KETIGA
Mengenai hal ini, ada delapan Ciri-ciri “Asathirul Awwalin” itu, :
v  QS. 08 : 31
31. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya Kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau Kami menhendaki niscaya Kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala".
Ciri yang pertama orang-orang Asathiirul Awwalin adalah merasa seolah-olah mampu berbuat sesuatu, sok tahu dan sebagainya padahal dirinya tidak tahu apa-apa hingga menciptakan kesombongan pada dirinya.
Jadi kalau misalnya ada orang yang mengatakan “Akupun bisa melakukan seperti itu” dan meremehkan orang lain, namun dibalik perkataannya itu dirinya tidak mampu melakukan apa-apa yang lebih baik, seolah-olah banyak komentar dan kurang puas terhadap orang lain. Maka sungguh dirinya sudah termasuk Asathirul Awwalin.
Jadi ASATHIRUL AWWALIN bukanlah sekedar ayat di dalam Al-Qur’an sebagai sebuah cerita yang dilakukan oleh orang-orang dahulu saja, tetapi ASATHIRUL AWWALIN ini sudah pecah menjadi perilaku universal dari nabi Adam sampai hari kiamat yang banyak diantara manusia melakukan hal ini. Alias ayat tentang Asathirul Awwalin ini berlaku sepanjang masa terhadap seluruh kehidupan manusia.
v  QS. 23 : 83
83. Sesungguhnya Kami dan bapak-bapak Kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!".
Ciri yang kedua orang asathirul awwalin ini adalah “lebih memilih nenek moyangnya untuk diikiti daripada Allah, alias menuhankan nenek moyangnya”.
Maka khususnya di Indonesia banyak sekali hal-hal yang bertaliat kuat dengan budaya dan peradaban nenek moyang ini, dalam beragamna pun, Islam di Indonesia sudah tidak murni lagi islamnya sebab sudah bercampur baur dengan sentuhan adat istiadat nenek moyang.
Misalnya saja adanya kematian harus ada acara “Haul” atau ulang tahun meninggalnya seseorang, kalau tidak dilakukan seolah-olah berdosa dan bersalah dihadapan Allah. sehingga mati-matian seorang anak dan keluarga mengusahan mencari dana untuk mengadakan acara yang dianggap benar tadi. Ketika ditanya mengapa semua itu dilakukan, orang-orang hanya menjawab bahwa semua itu adalah yang dilakukan oleh nenek moyang kami yang terdahulu. Sehingga banyak orang-orang liar yang mengikuti sesuatu dari nenek moyangnya tanpa tahu makna apa yang ada dari hal-hal yang dilakukannya. Selain itu masih banyak lagi contoh-contoh untuk menggambarkan bahwa banyak diantara manusia yang menuhankan adatnya ketimbang cara Allah.
v  QS. 27 : 68
68. Sesungguhnya Kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak Kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala".
Ciri yang ketiga adalah mereka “Tidak tajut ancaman dan neraka”.
Semua manusia tahu bahwa dirinya pasti mati dan menghadap Allah, namun banyak diantara manusia yang lalai dan tidak mempersiapkan bekal kematiannya dengan benar. Maka prototipe seperti ini adalah penentang Allah dan berani menghadapi ancaman Allah kelak.
Banyak manusia yang gila harta dan dunia, terlambat memperbaiki diri, menolak kebenaran, dan terjebak dengan permainan dunia ini, sehingga melupakan diri kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan segala hal yang diperbuat. Dan tidak jarang ketika disuruh taubat banyak yang belum siap dan masih menganggap masih banyak waktu yang di berikan Allah kepadanya, inilah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v  QS. 68 : 15

15. apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
Ayat sebelumnya di surah 68 : 14 menyatakan bahwa karena dia kaya dan memiliki banyak anak, maka disambung oleh ayat ini, Ciri yang keempat adalah “Gelisah, banyak alasan karena merasa punya sesuatu”,
Maka perhatikanlah sangat jarang dan susah bagi orang-orang kaya untuk dekat kepada Allah. karena sudah merasa memiliki dan bisa membeli apa saja dengan hartanya menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Tatkala cerita orang kaya kita tahu bahwasanya di zaman musa ada “Qorun”, seorang konglomerat besar pada masanya. Namun dengan segala hal yang dimilikinya membuatnya tidak semakin dekat kepada Allah. perhatikan pula “Fir’aun” yang merasa punya kekuasaan, ada pula “Hamman” yang merasa memilki pengetahuan, dan juga “Samiri” yang sudah merasa memiliki kebaikan namun ingin dipuji oleh orang lain. Semuanya kepemilikan mereka membuatnya menjadi orang-orang ASATHIRU AWWALIN sebagai contoh buat pelajaran manusia semua.
Termasuk saat ini, banyak sekali orang yang merasa kaya, merasa punya ilmu dan kekuasaan “sangat sulit untuk bertaqwa kepada Allah swt”, ada yang mengaku sibuk, ada yang mengatakan tidak ada waktu untuk mengaji karena banyaknya pekerjaan. Mereka semakin tersiksa dengan apa yang dimilikinya dan semakin tersiksa karena Allah ditinggalkannya. Sikap inilah yang menjadikan ciri orang ASATHIRUL AWWALIN.

v  QS. 83 : 13

13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”
Di ayat sebelumnya mengatakan bahwa mereka mendustakan hari pembalasan, maka ciri yang kelima adalah “Mendustakan Hari pembalasan”.
Banyak bukti yang kita lihat, banyak orang yang melakukan keburukan tanpa memikirkan akibat yang dilakukannya, banyak orang kaya yang licik, orang pintar yang menipu, dan penguasa yang liar tidak perduli kepada rakyatnya, maka termasuklah mereka itu dalam garis ASATHIRUL AWWALIN. Mereka mendustakan hari pembalasan Allah.
Semua tahu mati, semua tahu pasti kiamat itu ada, tapi kenapa masih banyak pencuri, korupsi, jauh dari Allah, tidak mau bertaubat, mengabaikan Al-Qur’an, tidak sholat, dan sebagainya. Itulah orang-orang ASATHIRUL AWWALIN”.
v  QS. 46 : 17
17. dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
Kata-kata “UF” pada ayat diatas adalah simbol keluhan, maka ciri keenam ini adalah “merasa pintar, suka mengeluh, selalu capek dan dan suka membantah.
Rasanya banyak sekali manusia yang termasuk dalam gari bagian ini. Banyak orang miskin yang mengeluh dengan kemiskinannya, orang kaya mengeluh karena merasa kurang dengan apa yang dimilikinya, orang pintar mauoun orang bodoh masih banyak yang suka mengeluh. Tidak ada uang mengeluh juga, ada uang merasa tidak puas dan sebagainya.
Dan ketika kebenaran datang kepadanya maka dirinya selalu membantah dan tidak mau mengikutinya, itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN.
v  QS. 06 : 25
25. dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu."
Ciri yang ketujuh ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Hati dan telinganya tersumbat, serta dirinya hanya mau dengar oleh orang lain namun dirinya tidak mau mendengarkan orang lain”.
Ini termasuk hal yang sangat berat, ketika ada orang tua menasehati yang benar, banyak yang melawan, ketika perkataan yang benar datang dari anak kecil kepada orang tua, dianggap anak itu masih kecil dan sok mengajari orang tua, suami hanya mau di dengar tapi tidak mau mendengarkan istrinya. Begitu pula sebaliknya dan seterusnya.
Hal yang paling berat adalah bagaimana diri bisa mendengarkan orang lain, sebab terlampau banyak yang kita ketahui, terlampau luas ketinggian diri kita sehingga berat mendengarkan sedikit kebenaran dari orang lain.
Makanya dalam hal ini tidak ada istilah “Senior dan junior, tidak ada istilah tua maupun muda” sebab kalau ini kuat di dalam diri maka inilah yang menyumbat hati dan telinga dari mendengarkan orang lain. Sebab kalau sudah merasa tua dan berpengalaman berat untuk mendengar orang muda yang benar, kalau sudah merasa senior maka tidak akan mau mendengarkan yang benar dari junior, begitulah seterusnya.
Itulah ciri ASATHIRUL AWWALIN
v  QS. 25 : 05
5. dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya Setiap pagi dan petang."
Perhatikan ketujuh ayat yang menjadi ciri Asathirul Awwalin sebelumnya dibandingkan dengan ayat ini, maka akan terlihat satu perbedaan yang mencolok dan unik.
Perkataan “ASATHIRUL AWWALIN” pada ayat sebelumnya selalu berada di akhir ayat atau di ujung ayat, sebaliknya pada ayat ini, perkataan itu Allah tuliskan didepan ayat atau sebagai pembuka kalimat ayat.
Kalaulah kita pikirkan dan menarik sebuah kesimpulan yang sederhana maka kita akan dapat melihat bahwa, ciri kedelapan ASATHIRUL AWWALIN ini adalah “Otobiograpi atau ingin selalu menunjukkan siapa dirinya”.
Maksudnya adalah setiap dia berkarya melakukan sesuatu, dia selalu menganggap bahwa dirinyalah yang melakukan itu semua, seolah bahwa kalau tidak ada dirinya maka tidak akan mungkin terjadi. Nah inilah sikap dan sifat yang sangat berbahaya. Sebab ini adalah sifat Iblis.
Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada nabi Adam, hanya Iblis yang menolak karenba begitu kuatnya “Otobiografi” dirinya. Dia merasa banyak berjasa karena langit dan bumi adalah ciptaan Allah melalui kerja tangan Iblis, karena merasa berjasa yang sangat besar itulah Iblis tidak mau bersujud hingga menjadikan dirinya menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah sebagai penghuni neraka kelak.
Jadi kalau ada orang mengatakan, dan sikap dirinya menyatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi karena dirinya, karena kerja keras dan susah payahnya, maka dirinya sudah termasuk Iblis dan atau sudah menjadi ASATHIRUL AWWALIN.
Karena itu jangan tunjukkan siapa diri ini kepada orang lain, jangan tunjukkan diri sudah berjasa, jangan tunjukkan diri ini sudah banyak berkarya, jangan pula merasa hanya diri ini yang melakukan sedangkan menganggap orang lain tidak bisa apa-apa. Biarkan hanya diri sendiri dan Allah saja yang melihat serta menilai karya ataupun perbuatan yang dilakukan. Jangan tunjukkan kepada siapapun diri sudah melakukan banyak hal. Tapi ciptakanlah sikap bahwa diri ini belum melakukan apa-apa dan belum ada menciptakan karya apapun juga agar terciptanya diri yang rendah hati.
TAHAP KEEMPAT
Nah sebagai penutup kajian yang sederhana ini, maka untuk mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini agar tidak menjadi pola sikap dan tindakan dalam hidup, maka mengambil pamungkas di surah 25 ayat 05 diatas tadi. Bahwa sesuai dengan surah di dalam Al-Qur’an, yang menjadi urutan ke 25 dalam Al-Qur’an adalah surah AL-FURQAN.
Itulah yang mampu mengantisipasi ASATHIRUL AWWALIN ini, sebab dengan kemapuan itulah diri mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk serta mana yang benar dan mana yang salah.
kemampuan AL-FURQAN ini pada Hakikatnya adalah “AL-QUR’AN.
Maka satu-satunya yang mampu menjadi alat pelindung dari asathirul awwalin ini adalah kitabullah Al-Qur’anil Karim. Siapa pun yang menjauhkan diri daripada Al-Qur’an maka menjadi Iblis lah dirinya dalam bentuk sebutan “MAKHLUK ASATHIRUL AWWALIN”.