Media
sosial, bagiku seperti sebuah kota Cyberpolitan yang tak ber Presiden,
tak ber Gubernur dan tak ber Walikota. Tak ada hakimnya, tak ada polisi,
tak ada pengadilan, dan tak ada acara Cyber Lawyer Clubnya. Semua orang
bebas berekspresi, semua orang punya kesempatan yang sama untuk
menyuarakan isi hati, fikiran, dan
mimpi. Di kota Cyberpolitan, suka-sukamu saja. Mau melawak, mau main
drama, mau galau, mau jadi pengamat politik, mau jadi model, pujangga,
photographer, EO, presenter musik, Host acara gosip, penulis hebat,
ustad/pendeta/rabbi, konsultan cinta, konsultan perkawinan, inspirator
dadakan, pedagang dan saudagar kaya, tourist musiman, penggila GAMES,
hingga mereka yang melabel dirinya “BE MY SELF ajah ah”. Komplit,
colorful, membingkai dinding, setiap waktu, berhari-hari,
berbulan-bulan, sepanjang Facebook, Tagged, Twitter, Blackberry, dan
berbagai media sosial lainnya masih bisa diakses.
Media sosial
layaknya ibukota metropolis dunia, kota Cyberpolitan yang tidak pernah
tidur. Menggeliat dari pagi buta hingga kantuk menyerang. Dari Sabang
sampai Merauke, dari Asia sampai Africa. Seperti awan, bergerak
melampaui batas negara-negara. Kekuatan kata-kata dan berbagai multi
media (video dan photo) menjadi jantungnya. Rupa-rupa elok pemilik
berbagai karakter penduduknya adalah darahnya. Dimana, darah dan jantung
bersinergi memompa kehidupan kota..
Kalau ada sebagian orang
yang menyebut media sosial sebagai tembok ratapan, karena semakin banyak
saja orang yang menggunakan media sosial sebagai tempat meratap,
mengumpat, mencurahkan isi hati dan berkeluh kesah dengan leluasanya,
namun aku justru menyebutnya sebagai panggung tempat semua orang
bergantian mentas berekspresi. Kebutuhan orang-orang untuk bereskpresi,
untuk dibaca, dilihat, diakui dan dikagumi banyak orang semakin tinggi.
Sepertinya buku-buku ekonomi dan sosial yang beredar di sekolah-sekolah
itu harus segera disesuaikan dengan perkembangan zaman, bahwa selain
kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, masih ada satu lagi kebutuhan
yang tidak boleh dihilangkan dari kehidupan, yaitu kebutuhan EKSIS.
Mari kita perhatikan dinding Facebook, Tagged, Twitter dan Blackberry
kita.. Semakin banyak orang yang kau tambahkan dalam friendlistmu,
semakin ramai dunia keduamu. Berbagai coretan dan lukisan mengisi wallmu
seketika. Sama sibuknya, sama kompleksnya, sama hingar bingarnya, sama
pluralisme nya dengan dunia nyata kan? Itulah dunia yang makin sulit
disapih. Dunia luas yang terkurung dalam sebuah
gadget/smartphone/notebook mu, karena ketika batteraimu habis, signalmu
problem, gadget ngambek, lampu mati, modem rusak, wifi gak bekerja,
semua lenyap tak berbekas.
Prilaku orang-orang yang bergabung
di dalamnya selalu unik dan beragam. Tapi, yang paling menarik tentu
saja mengamati orang-orang yang terlalu aktif manggung disana.
Setidaknya, dibawah ini contoh prilaku yang sempat ter capture, jangan
nervous gitu donk..
Punya koleksi yang begini di Facebook kamu?
Update beberapa status sehari, status beragam dari status ringan ucapan
selamat pagi, kejadian yang dia alami sehari-hari, hingga berita-berita
aktual yang lagi panas di TV, risalah sinetron / FTV, hingga gosip
artis yang lagi berkasus dikutip berikut kalimat pengantar yang
menggelitik. Belum lagi selalu siap merespon comment-comment yang masuk
dengan panasnya.. Dan membalas kunjungan ke status-status teman. Semua
tak boleh ketinggalan di update dan di respond pokoknya, dari Syahrini
berbohong sampai Olimpiade di London, dari tetangga sebelah dan tukang
sampah hingga kasus Hambalang Sesuatuuu bangetttt…
Di blackberry tokohnya lain lagi..
Dari pagi membuka hari hingga menutup malam, si dia tak pernah absen.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa blackberry dan
media sosial. Bayangkan saja .. aktifitas onlinenya gak kalah padat
dengan artis-artis Indonesia yang lagi naik daun yang kemana-mana
dibuntuti paparazzi dan gerak-geriknya diabadikan media. Pagi-pagi, si
dia pasti selalu mengucapkan selamat pagi, Alhamdulilah, berikut
berbagai aktifitasnya dari memandikan anak, menyiapkan mereka ke sekolah
hingga memasak. Menu makan pagi, menu makan siang, menu snack sore
sampai menu makan malam berikut foto-fotonya tak ketinggalan di update.
Jajan tahu sumedang pun di info. Kehilangan sandal jepit, uang kembalian
kurang, naik becak sampai mau mandi, seluruh dunia diberitahu. Belum
termasuk status-status misterius yang cukup membuat keningku berkerut
berkali-kali, “terkacip”, “getah basah”,”bekuah”, sampai “terkeliyep..”
Nah khusus kata-kata itu yang mengerti hanya kalangan tertentu… Kalau
mau tau, inbox eaaaaa kk.., cemungudhhhhh…
Untuk dua contoh
diatas, aku mengkategorikan mereka telah mengalami fase “EXIST ADDICT”,
merasa belum hidup tanpa smartphone dan media sosial. Jadi, kalau dua
orang ini tiba-tiba hilang dari peredaran, ya sesuatu yang serius
mungkin sedang terjadi!
Nah bagaimana dengan yang “NARCIST
AKUT”? Ahhh yang ini gak kalah unik. Narcis akut adalah penyakit media
sosial yang agak tinggi sedikit dari LEBAY. Hanya saja, lebay sudah
tidak aku kategorikan penyakit media sosial karena hampir semua pengguna
media sosial memiliki sisi lebay kok. Yang gak punya sisi lebay itu
hanya pengguna media sosial yang lupa passwordnya, jarang online karena
berdomisili di hutan, jarang online karena gak punya pulsa, sering
online tapi gak punya teman, dan pemain game sejati yang online hanya
untuk menanam brokoli, memberi makan buaya, mengambil honor waitress di
cafe, dan lain-lainlah yang kalian pasti lebih tau dari aku.
Jadi, kalau prilakumu sudah seperti pengamatanku di bawah ini, ya itu
berarti kamu positif “NARCIST AKUT”. Ganti-ganti profile picture minimal
10 menit sekali dan rata-rata close up sampai bulu hidung pun nampak
bila di zoom. Dimanapun, kapanpun, berfoto-foto. Gak perduli background,
gak perduli omongan, atau berpasang-pasang mata menatapmu aneh. Di
mobil jadi, di rumah jadi, di kamar, di meja makan, di bajaj, di tembok
yang sudah ngelupas-ngelupas catnya sekalipun (malah artistik), sampai
toilet mall pun jadi TKP.
Narcis dan Narcis Akut Bentuk
kecintaan pada diri sendiri yang kemudian berkembang menjadi sebuah
kebanggaan dan kekaguman pada diri sendiri. Media sosial dan Messenger
memang tempat yang subur untuk tumbuh kembang nya Narcis menjadi Narcist
Akut. Dari yang narcist nya masih pemula, hingga profesional. Dari yang
narcistnya masih malu-malu terselubung hingga terang-terangan dan sudah
jelas narcist , dari pakai kamera handphone, kamera pocket sampai
membayar photographer profesional untuk membuat foto diri yang ekslusif.
Tentu saja tunjuan awalnya untuk koleksi pribadi, dipajang di dinding,
dipandangi tiap hari sambil senyum-senyum, dan tentu saja dipamerin
donkkkk di media sosial…ah masa gak tau sih? Maka itu jangan heran,
kalau tiap hari selalu ada saja foto terbaru yang di upload. Jumlah
album mendekati 80 buah, Dan 40 persennya foto diri, close up semua!
Astagaaaaaaaaaa!!!
Tapi, dua penyakit sosial itu belum ada
apa-apanya dibandingkan dengan sampling yang satu ini.. Yaitu gabungan
keduanya, Narcist Akut dan Exist Addict ditambah Lebay yang banyak. Dan
aku yakin, yang modelnya begini, gak hanya ada di koleksiku saja, mesti
ada dimana-mana, hanya masalahnya, apakah kalian sudah menemukannya?
Pasti ada yang nanya, kok yang begitu dipertahankan sih, Lha kalau
dibuang, aku gak punya bahan lagi donk… Hi hi..
Setelah
beberapa lama memperhatikannya, aku mulai membayangkan, bagaimana
kepribadian sebenarnya perempuan yang istimewa ini. Jam terbangnya di
media sosial jangan ditanya. Punya account dimana-mana dan aktif semua.
Blackberrynya on 24 jam sehari. Tinggal PING!!! Responnya cepat punya.
Dalam satu hari saja, ganti profile pic bisa diatas 7x, rasanya Recent
Updates ya dia saja dia saja. Sekali waktu dia mengumpat tentang
ketidaksukaannya dengan sesuatu.. Sekali waktu lagi, dia galau dg kata2
yg putus asa. “Tuhan Peluk Aku..” Tadinya aku fikir judul lagu.. Secara
aku cukup sering menemukan kalimat satu ini dituliskan di FB dan Tagged.
Lah, memang Tuhan online juga disana gitu? Sekali waktu, dia bisa
berapi-api menyindir seseorang di blackberrynya. Sekali waktu memasang
foto romantis tentang cinta dan harapannya. Ada gambar 2 angsa sedang
menautkan simbol love dari kepala mereka. Lain waktu lagi dia memasang
foto yang nyeleneh – asal, dengan kata-kata yang lucu. Lain waktu lagi,
dia meng-update status-status / foto inspiratif dengan kalimat bijak
yang menenangkan jiwa, Duh adem bener melihatnya. Lain waktu lagi,
berubah lagi menjadi kalimat makian kepada seseorang penuh emosi, dengan
kata-kata yg tidak enak dibaca. Lalu pernah juga aku melihat, kalimat2
penuh pembenaran tentang sesuatu entah maksudnya apa.. Quote-quote
tentang persahabatan dan cinta sejati juga ada. Kadang-kadang mengutip
kalimat pak Mario Bijak, sang inspirator terkenal itu. Kadang juga
capture conversationnya dengan beberapa teman yang memuja kebeningan
kulitnya yang makin hari terawat baik. Dan tadi, aku melihat foto
perempuan sedang menangis di profile picturenya. Belum termasuk foto
close up yg tak terhitung lagi jumlahnya, (dengan senyum manis tentu
saja). Dan itu baru di Blackberry, di Facebook lebih hebat lagi. Status
ada, Posting video lagu-lagu cinta hingga R&B, berbagai notes puisi
cinta hingga sindiran sarkasme hadiah untuk someone, LUMAGADA judulnya -
Lu Mau Gue Ada..
Lalu aku jadi berfikir begini, “Gak bagus
juga ya terlalu terbuka dan mudah dibaca di media sosial. Bukan apa-apa,
kalau yang baca orang-orang terdekat kita sih gak apa-apa. Paling
mereka membatin -Duh, penuh deh wall guee, eloe semuaaaa!” Nah, kalau
yang membaca orang gak terlalu kenal? Rekan bisnis? Atau someone baru
kenal yang bermaksud pedekate, apa gak ill feel mereka? Karena
salah-salah, bisa dianggap orang ”SAKIT JIWA”.
Aku jadi ingat,
temanku Big (yah orangnya tinggi gede tegap, dan dia gak mau di expose
namanya karena dia sudah terlanjur ngetop dari SD), pernah menggumam
suatu hari. “Ric, aku tuh senang melihat perempuan cantik. Luwes. Pandai
bergaul. Apalagi kalau perempuannya pintar gitu ya. Tapi, begitu aku
tau tindak tanduknya di facebook dan blackberry minus, langsung illfeel
aku. Boro-boro mau deketin, langsung aku remove dia. Ringam… “.
Temanku yang lain, seorang pencinta games online menyatakan ”Buat apa
punya pacar cantik kalau labil jiwanya? Nambah-nambahin masalah saja ”
Temanku satu lagi yang juga pengamat media sosial lebih kejam lagi,
“Kayak orang kurang perhatian ya. Apa dia gak punya real best friend ya,
sehingga lari kemana-mana untuk menarik perhatian?”
Hmmm…
Menarik. Benarkah tujuan mereka meng upload foto berganti-ganti, meng
update status berkali-kali sehari, memposting berbagai hal, hanya
sekedar berekspresi atau sudah dalam tahap kurang perhatian sehingga
perlu usaha yang banyak untuk ”Menarik Perhatian”? Karena tentu saja,
sesuatu yang over, berlebihan, memicu berbagai respon dari banyak orang.
Dan seringnya, mereka membicarakan itu di belakang loh..
Kadang, mereka sendiri mungkin tidak menyadari, hingga suatu hari ada yang tega menyampaikan. Sebagian mungkin bilang..
“emang kenapa? Wall-wall gue.. Suka-suka gue! Loe gak suka, jangan baca
donk!” »» Iya bener.. Tapi kan tulisanmu muncul juga di wall orang lain
yang artinya suka gak suka dibaca-dilihat-diamati oleh berbagai orang
yang ada di friendlistmu.
.
“Ah enggak ah, aku kan cuma iseng.. Lagi santai aja..” »» Iseng kok sering? Iseng kok tiap hari..
“Terus gimana donk gue kan perlu berekspresi..” »» Iya ya.. Layar gelas
layar kaca gak bisa ditembus, layar Gadget–Blackberry/Smartphone juga
bisaaaa..
Tapi, gak ada salahnya me review kembali aktivitas
kamu di media sosial. Coba buka kembali FBmu, apa saja yang kau buat
disana, dan tanya sedikitnya 10 dari teman-teman yang mengenalmu apakah
kamu termasuk “Narcist Akut, Exist Addict dan ……… ” dan dengarkan apa
komentar jujur mereka. Kalau 7 diantara mereka mengatakan ya sementara 3
yang lain mengatakan TIDAK, karena mereka gak punya account di media
sosial, jarang online or jangan-jangan mereka sendiri gak tau media
sosial itu apa.. yaaahhhh berarti kamu ………….. Duh berat mengatakannya..
Semoga tulisan ini mencerahkan. Tidak bermaksud menghakimi atau
menyentil siapapun, Hanya sebuah pengamatan dari seorang penulis yang
baru 3 tahun insyaf.. Hehe.. Tapi apabila ada sahabat-sahabat yang
‘kena” ya sudah, berarti tulisan saya nyata donk.. Wkwkkwkw..
mungkin aku juga dialamnya, masyaAllah, ampunkan kami ya Allah...
Sabtu, 26 Oktober 2013
Rabu, 23 Oktober 2013
Hikmah ke 21."HAJI=HADIAH JIWA"
Setiap muslim sangat berharap suatu saat dapat menunaikan haji ke Baitullah Makkah, selain rukun Islam dan kewajiban bagi yang mampu, Haji mempunyai pengaruh kejiwaan yang sangat didambakan yaitu merasakan kebesaran, kekusaan, kedekatan dan kasih sayang Allah Swt, hal itu sangat berbeda rasanya pada tempat yang lain dimana pun didunia ini. Itu sebabnya selalu muncul keinginan untuk kembali lagi meskipun sudah berkali-kali naik haji. Beribadah di Makkah dan Madinah terasa nikmat, jiwa tenang, hati lapang dan damai, seolah hidup ini sudah tidak ada problem lagi karena semua dikembalikan kepada Allah Swt. Bagi yg tidak berangkat haji, Nabi menganjurkan umatnya berpuasa pada hari 'Arafah, karena nilainya sangat besar yaitu dosanya diampuni oleh Allah SWT. Selain itu banyak hikmah yang dapat menjadi renungan bagi yang melaksanakan haji, antara lain tentang manasik haji/ tata cara haji mempunyai kesamaan dengan gerakan shalat, yaitu pertama, ihram=wudhu. Kedua, berdiri di Arafah=berdiri takbir shalat. Ketiga, ruku' mengambil batu kecil di Muzdalifah=ruku' dalam shalat. Keempat, melempar jumrah di Mina=i'tidal dalam shalat. Kelima, thawaf ifadhah= sujud dalam shalat. Keenam, Sa'i=duduk dalam shalat. Ketujuh, Tahallul=Salam kanan-kiri dalam shalat. Apa maksudnya? Wallahu A'lam. Subhanallah, Tidak ada yang sia-sia atas seluruh ciptaan Allah.
Hikmah ke 22. "BAITULLAH=RUMAH ALLAH".
"Rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia sebagai tempat beribadah adalah KA'BAH/BAKKAH yang diberkahi sebagai petunjuk bagi semesta alam". Bakkah artinya menangis, karena setiap jamaah haji yang datang melihatnya pasti menangis tanpa disengaja dan tidak bisa dibendung, inilah tangis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Haru campur gembira melihat KA'BAH yang kokoh, kuat gagah, berwibawa. Semua itu melambangkan kuasa dan kebesaran Allah Swt, yang langsung nampak dihadapan mata kita, maka hati siapa yang tidak kagum dan takjub melihatnya kecuali yang berhati keras dan sombong. Di depan Ka'bah kita merasa kecil, hina, lemah, dimata Allah. Semua kita sama sebagai abdi, hamba Allah yang faqir butuh ampunan dan kasih sayang Allah Swt. Sebagaimana lazimnya rumah merupakan tempat berkumpulnya sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak. Dan begitu juga Baitullah, didalamnya ada keluarga yaitu Ibrahim, Hajar dan Ismail, sebagai simbol keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Bagi ayah dapat meneladani sifat Nabi Ibrahim yang ketaatannya total kepada Allah, bagi Ibu, Siti Hajar teladan Ibu yang nurut pada suami karena Allah, bagi anak, Ismail sebagai teladan anak yang shaleh dan sabar karena Allah. Wallahu A'lam.
Hikmah ke 23. "QURBAN"
Beberapa saat setelsh selesai khutbah 'idul Adha, sampai dengan tiga hari berikutnya adalah merupakan saat penyembelihan hewan kurban yang dagingnya akan dibagikan kepada kaum fskir miskin yang kursng mampu. Ibadah kurban mengandung nilai ubudiyah yang berdimensi vertikal dan horisontal. Secara vertikal ibadah kurban merupakan manifestasi ketsatan serta kerelaan seorang muslim dalam menunaikan perintah Allah dan rasulNya, apapun resiko yang dihadapinya. Sedangkan secara horisontal, ibadah kurban melambangkan solodaritas dan kesetia kawanan sosisial dari si kaya terhadap si miskin. Karena itu substansi mskna maupun nilai dari ibadah kurban dalam kondisi zaman sekarang ini, bukan hanya sekedar menyembelih hewan kurban lalu membagiksn ke fskir-miskin, melainkan perlu diaktualidasikan pada rasa sosial dan kemanusiaan jauh kedepan. Dengan ibadah kurban jugs diharapkan sejauh mana ketaqwaan seorang muslim dapat diwujudkan dalam amal dan perbuatan nyata. Selain itu, penyembelihan hewan kurban hendaknya juga dijadikan sebagai lambang untuk menyembelih dan melenyapkan sifst-sifat kebinatangan yang mungkin ada pada diri kita seperti: tidak mengenal halal-haram, tidak punya rasa malu, serakah, rakus, ingin menang sendiri dan lain- lain. Wallahu A'lam.
Jumat, 04 Oktober 2013
Hikmah ke 20 "MALU= Manusia Lupa".
" Apabila anda sudah tidak punya malu maka lakukanlah apa yang anda suka".
Apa yang hilang di negeri kita sekarang ini, yaitu 'MALU' Malu ini tidak ada disekolah universitas, tidak juga di mesjid, tapi adanya tersembunyi didalam hati, kita sulit mencari wujudnya karena malu bukan makhluk berfisik bentuknya kita tidak tau seperti apa? tapi yang pasti semua kita dapat merasakan bahwa malu itu ada dalam diri kita, nah kalau malu itu sudah tidak terasa dalam hati, maka disinilah hawa nafsu dan fikiran mulai bekerja untuk berbuat sesuatu yang membuat kita malu dan memalukan keluarga, tetangga, masyarakat, bahkan bangsa kita. Lihatlah para koruptor itu, membuat semuanya menjadi malu dan memalukan. Keluarga marah, rakyat marah, presiden marah, bangsa marah, siapa yang tidak marah berarti tidak punya malu, tapi malu-maluin. Harusnya kita malu kepada Allah, malu pada diri, malu pada tetangga, malu pada teman partai, malu pada lembaga, malu pada negara dan seterusnya. Nabi mengajarkan 'Malu itu bagian dari Iman'. Ketika sedang korupsi, mencuri, maling, selingkuh, berzina maka saat itu iman sedang terbang dari diri kita alias tidak beriman lagi. Mari kita bentengi iman kita dengan rasa malu melakukan sesuatu yang dapat memalukan kita semua. Ya Allah Rabbana, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau menunjuki kami, dan berilah kami dari sisiMu kasih sayang, sesungguhnya Engkau Maha Memberi. Aaamiin. Wallahu A'lam.
Langganan:
Komentar (Atom)